Persiapan yang Menggentarkan
Collecting my old writings – September 2004.
Download Traditional Arabic Font
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dirugikan (Al Anfal: 60).
Kehidupan manusia, baik dalam skala makro maupun mikro, merupakan perang, pergulatan antara yang haq dan yang bathil. Syaithan, sesuai dengan deklarasinya sebagai musuh manusia di hadapan Allah, punya ambisi yang besar dalam perang ini. Tidak hanya untuk mengalahkan manusia, tetapi juga merekrut manusia-manusia kalah tadi untuk berdiri di belakangnya, dan bergabung dalam pasukannya sebagai peserta aktif dalam perang ini.
Untuk menghadapi perang ini, Allah memerintahkan pasukanNya untuk melakukan persiapan, mengumpulkan kekuatan. Persiapan ini, tidak saja nantinya akan digunakan dalam perang yang sebenarnya, tetapi proses persiapan itu sendiri mempunyai efek psikologis yang kuat. Baik kepada diri kita, sebagai Hizbullah, sbahwa kita sudah bersiap, bahwa kita melakukan persiapan ini dalam rangka ketaatan kita kepada Allah, bahwa persiapan ini adalah bagian dari tawakkal kita kepada Allah. Dan Allah akan membalas ketaatan dan ketawakkalan kita itu dengan pertolonganNya, pertolongan kekuatan yang tidak akan terkalahkan.
Persiapan ini juga akan menimbulkan efek gentarnya musuh-musuh kita. Dan kemenanganpun bisa dicapai dengan lebih mudah, dan bahkan kekuatan yang menggentarkan itu menjadi alat perekrut pasukan musuh untuk berbaris bersama kita. Kita lihat saja bagaimana Rasulullah saw menyiapkan pasukannya menjelang Futuh Makkah. Persiapan yang menggentarkan kaum kafir Quraisy itu mengantarkan Makkah tanpa pertumpahan darah, dan memperkuat pasukan Rasulullah dengan tentara-tentara Muslim baru.
Dalam sejarah percaturan dunia, senjata nuklir menjadi “deterrent force”, karena sedemikian dahsyat kekuatannya. Bayangan fatal Hiroshima dan Nagasaki menggentarkan pihak-pihak yang menjadi sasaran senjata nuklir itu. Pihak yang lemah dan gentar itu akhirnya mengikuti ungkapan “if you can’t beat them, join them”, dan ikut berbaris bersama penguasa senjata tersebut.
Perang yang kita hadapi mempunyai berbagai macam bentuk dan tingkatan. Selama kita melawan pasukan bathil dan merekrut manusia untuk berdiri di bawah bendera Allah, maka itulah peperangan yang harus kita lakukan. Persiapan menghadapi perang pun berbeda-beda. Tidak melulu kekuatan fisik yang harus kita siapkan, kekuatan ruhiyah dan kekuatan strategi pun harus dipersiapkan. Banyaknya perang yang dimenangkan oleh Hizbullah di bulan Ramadhan menunjukkan bahwa persiapan ruhiyah mereka yang sempurna saat berpuasa menjadi sebab datangnya pertolongan Allah.
Allah mengindikasikan bahwa strategi dan perencanaan adalah salah satu bentuk persiapan yang harus kita lakukan. “Mereka berencana, dan Allah berencana. Dan Allah adalah sebaik-baik Perencana.” Kita bisa lihat juga bagaimana Rasulullah menyusun rencana dan strategi sebelum berhijrah. Dan musuhpun membuat rencana untuk menangkap Rasulullah saw. Kita harus yakin pertolongan Allah akan datang menghadapi setiap rencana musuh-musuh kita, tetapi hal itu tidak boleh menghalangi persiapan kita.
Strategi tanpa ketaatan tidak akan berhasil, seperti ditunjukkan Allah pada perang Uhud. Strategi yang sempurna tidak ada artinya tanpa pelaksana dan pelaksanaan yang baik. Ustadz Hasan Al Banna mengatakan, ada dua hal yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan: struktur dan ketaatan. Struktur mendefinisikan tujuan dan memberikan wadah bagi strategi yang akan dijalankan. Ketaatan setiap pelaksana pada struktur menjamin bahwa persiapan dan perencanaan yang ada dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Pemilu adalah salah satu peperangan itu. Kita ingin menang bukan semata karena kita ingin berkuasa, dan menjadikan kekuasaan itu tujuan akhir kita. Tetapi kita ingin menang, karena dengan kemenangan itulah lebih terbuka jalan bagi kita untuk menumpas kebathilan. Pemilu kali ini juga merupakan perang untuk mempertahankan eksistensi kita. Eksistensi Partai di era reformasi ini diperlukan sebagai wadah dan alat yang paling efektif untuk melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar kita.
Pemilu memerlukan persiapan sesuai dengan jenis peperangannya. Saudara-saudara kita di Indonesia sudah seperti kain yang tadinya basah yang sudah hampir kering karena terlalu lama dan sering diperas. Apa saja yang ada pada diri mereka habis terperas untuk mempersiapkan perang ini. Kesempatan bagi kita untuk mencontoh mereka terbuka lebar. Pemilu sudah dekat, deklarasi Partai kita di Amerika sudah di ambang mata. Kita jadikan deklarasi ini sebagai puncak persiapan kita.
Majulah ke depan dalam mempersiapkannya. Kita tahu bahwa setiap prajurit yang bertempur di barisan paling depan berada di daerah yang paling berbahaya. Apalagi kalau mereka masuk untuk merebut daerah lawan yang siap menyambut kedatangan mereka. Tapi ketaatan barisan terdepan ini kepada struktur yang ada membuat mereka terus maju, walaupun mereka harus berkorban paling banyak. Barisan demi barisan yang taat ini akan melemahkan musuh, dan akhirnya mengantarkan kemenangan.