Persiapan yang Menggentarkan

June 5th, 2005

Collecting my old writings – September 2004.

Download Traditional Arabic Font

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dirugikan (Al Anfal: 60).

Kehidupan manusia, baik dalam skala makro maupun mikro, merupakan perang, pergulatan antara yang haq dan yang bathil. Syaithan, sesuai dengan deklarasinya sebagai musuh manusia di hadapan Allah, punya ambisi yang besar dalam perang ini. Tidak hanya untuk mengalahkan manusia, tetapi juga merekrut manusia-manusia kalah tadi untuk berdiri di belakangnya, dan bergabung dalam pasukannya sebagai peserta aktif dalam perang ini.

Untuk menghadapi perang ini, Allah memerintahkan pasukanNya untuk melakukan persiapan, mengumpulkan kekuatan. Persiapan ini, tidak saja nantinya akan digunakan dalam perang yang sebenarnya, tetapi proses persiapan itu sendiri mempunyai efek psikologis yang kuat. Baik kepada diri kita, sebagai Hizbullah, sbahwa kita sudah bersiap, bahwa kita melakukan persiapan ini dalam rangka ketaatan kita kepada Allah, bahwa persiapan ini adalah bagian dari tawakkal kita kepada Allah. Dan Allah akan membalas ketaatan dan ketawakkalan kita itu dengan pertolonganNya, pertolongan kekuatan yang tidak akan terkalahkan.

Persiapan ini juga akan menimbulkan efek gentarnya musuh-musuh kita. Dan kemenanganpun bisa dicapai dengan lebih mudah, dan bahkan kekuatan yang menggentarkan itu menjadi alat perekrut pasukan musuh untuk berbaris bersama kita. Kita lihat saja bagaimana Rasulullah saw menyiapkan pasukannya menjelang Futuh Makkah. Persiapan yang menggentarkan kaum kafir Quraisy itu mengantarkan Makkah tanpa pertumpahan darah, dan memperkuat pasukan Rasulullah dengan tentara-tentara Muslim baru.

Dalam sejarah percaturan dunia, senjata nuklir menjadi “deterrent force”, karena sedemikian dahsyat kekuatannya. Bayangan fatal Hiroshima dan Nagasaki menggentarkan pihak-pihak yang menjadi sasaran senjata nuklir itu. Pihak yang lemah dan gentar itu akhirnya mengikuti ungkapan “if you can’t beat them, join them”, dan ikut berbaris bersama penguasa senjata tersebut.

Perang yang kita hadapi mempunyai berbagai macam bentuk dan tingkatan. Selama kita melawan pasukan bathil dan merekrut manusia untuk berdiri di bawah bendera Allah, maka itulah peperangan yang harus kita lakukan. Persiapan menghadapi perang pun berbeda-beda. Tidak melulu kekuatan fisik yang harus kita siapkan, kekuatan ruhiyah dan kekuatan strategi pun harus dipersiapkan. Banyaknya perang yang dimenangkan oleh Hizbullah di bulan Ramadhan menunjukkan bahwa persiapan ruhiyah mereka yang sempurna saat berpuasa menjadi sebab datangnya pertolongan Allah.

Allah mengindikasikan bahwa strategi dan perencanaan adalah salah satu bentuk persiapan yang harus kita lakukan. “Mereka berencana, dan Allah berencana. Dan Allah adalah sebaik-baik Perencana.” Kita bisa lihat juga bagaimana Rasulullah menyusun rencana dan strategi sebelum berhijrah. Dan musuhpun membuat rencana untuk menangkap Rasulullah saw. Kita harus yakin pertolongan Allah akan datang menghadapi setiap rencana musuh-musuh kita, tetapi hal itu tidak boleh menghalangi persiapan kita.

Strategi tanpa ketaatan tidak akan berhasil, seperti ditunjukkan Allah pada perang Uhud. Strategi yang sempurna tidak ada artinya tanpa pelaksana dan pelaksanaan yang baik. Ustadz Hasan Al Banna mengatakan, ada dua hal yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan: struktur dan ketaatan. Struktur mendefinisikan tujuan dan memberikan wadah bagi strategi yang akan dijalankan. Ketaatan setiap pelaksana pada struktur menjamin bahwa persiapan dan perencanaan yang ada dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Pemilu adalah salah satu peperangan itu. Kita ingin menang bukan semata karena kita ingin berkuasa, dan menjadikan kekuasaan itu tujuan akhir kita. Tetapi kita ingin menang, karena dengan kemenangan itulah lebih terbuka jalan bagi kita untuk menumpas kebathilan. Pemilu kali ini juga merupakan perang untuk mempertahankan eksistensi kita. Eksistensi Partai di era reformasi ini diperlukan sebagai wadah dan alat yang paling efektif untuk melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar kita.

Pemilu memerlukan persiapan sesuai dengan jenis peperangannya. Saudara-saudara kita di Indonesia sudah seperti kain yang tadinya basah yang sudah hampir kering karena terlalu lama dan sering diperas. Apa saja yang ada pada diri mereka habis terperas untuk mempersiapkan perang ini. Kesempatan bagi kita untuk mencontoh mereka terbuka lebar. Pemilu sudah dekat, deklarasi Partai kita di Amerika sudah di ambang mata. Kita jadikan deklarasi ini sebagai puncak persiapan kita.

Majulah ke depan dalam mempersiapkannya. Kita tahu bahwa setiap prajurit yang bertempur di barisan paling depan berada di daerah yang paling berbahaya. Apalagi kalau mereka masuk untuk merebut daerah lawan yang siap menyambut kedatangan mereka. Tapi ketaatan barisan terdepan ini kepada struktur yang ada membuat mereka terus maju, walaupun mereka harus berkorban paling banyak. Barisan demi barisan yang taat ini akan melemahkan musuh, dan akhirnya mengantarkan kemenangan.

ariapn Bahasa, Games

Pahlawanku

June 5th, 2005

Collecting my old writings – September 2003.

“[I am not a hero], but I served in a company of heroes.”
Stephen Ambrose.

Disini mahal dan susah untuk bertemu ikhwah Indonesia. Harus ada acara khusus di tempat tertentu yang kadang jaraknya cukup jauh. Waktu nyetir setelah pulang dari satu pertemuan itu, saya lihat ummi dan anak-anak sedang tidur. Rumah masih 3-4 jam lagi, jalanan cukup sepi.

Setiap kali usai bertemu dengan ikhwah, saya merasa bahagia dan bersyukur, sekedar bersama sudah merupakan kenikmatan. Nikmatnya berjamaah. Saya jadi ingat pada mantan murobbi saya. Karena bagaimanapun Allah telah menjadikannya sebagai salah satu sebab saya bisa menikmati ukhuwah ini.

Saya jadi ingat salah satu nasehat yang pernah saya terima tentang adab terhadap murobbi kita. Salah satu adabnya adalah, terus mengingat-ingat kebaikan mereka. Siapa sangka, semakin lama kebaikan itu semakin susah dilupakan, bahkan terasa semakin besar, karena semakin terasa nikmat dari hasil perjuangan beliau dulu.

Kalau memakai definisi pahlawan yang sering dipakai Anis Matta, murobbi-murobbi kita itu adalah pahlawan-pahlawan. Dan saya merasakan nikmat yang luar biasa, pernah berada dan berjuang bersama mereka, walaupun bukan pada tingkatan kepahlawanan mereka.

Maka, syukurilah keberadaannya, sambunglah kembali tali silaturahim dengannya, doakanlah dia, bayangkanlah wajahnya dalam setiap doa, cintailah dia karena Allah.

And, we do not do this because we have to repay them back. No, but because it is our duty. Because it’s been an honor, a priviledge, a ni’mah to have and to serve in their companies.

ariapn Bahasa, Personal

Kesombongan Sosial

May 12th, 2005

Saya mendapatkan istilah “arrogance of virtuous certainty” ketika membaca gambaran tentang peranan administrasi GWB dalam beberapa kasus, terutama Iraq. Keyakinan terhadap kebenaran prinsip mereka membuat mereka arogan dan menganggap diri di atas hukum.

Saya melihat gejala ini tumbuh dalam lingkup berbagai organisasi yang saya terlibat. Ada dua fase dari gejala ini. Fase pertama adalah dimana individu percaya akan kebenaran prinsip yang dia miliki, yang dalam satu organisasi prinsip ini juga dipercayai oleh banyak individu lain. Ini menjadikan rasa percaya mereka akan kebenaran prinsip tersebut meningkat, dan menganggap organisasi merekalah yang terbaik di bidangnya.

Fase pertama ini dalam batas-batas tertentu cukup wajar, bahkan ada suatu keperluan untuknya. Tanpa “fanatisme” ini, organisasi tidak akan bertahan lama.

Fase kedua adalah ketika individu berbalik “meminjam” prinsip organisasi untuk mendapatkan pembenaran pribadi. Keyakinan akan kebenaran bersama menjadikan keputusan–yang mungkin dimotivasi oleh kepentingan pribadi–perlu dibingkai seakan merupakan suatu keputusan yang bermanfaat untuk semua. Seakan keputusan tersebut vital bagi kelangsungan organisasi, dan bawah peran mereka tak tergantikan.

Pada fase pertama yang harus kita sadari adalah organisasipun masih harus berhukum, dalam segala aspek hukum itu sendiri. Minimal ini akan mengurangi efek dari fase kedua, karena individu yang ingin bertameng kebenaran organisasi “terpaksa” harus pula berselimutkan hukum.

ariapn Bahasa, Personal

Mu’jizat cita-cita besar kita

May 12th, 2005

[originally written for a dear brother of mine]

Ketika Johannes Kepler berhasil menemukan bahwa pergerakan planet mengelilingi matahari adalah elipsis (Kepler’s first law of planetary motion), dia merasa kecewa. Penelitian yang dia lakukan selama lebih dari dua puluh tahun, tidak menghasilkan apa yang dia inginkan. Dia ingin membuktikan bahwa orbit planet adalah lingkaran. Karena lingkaran adalah lambang kesempurnaan dan Kepler ingin membuktikan kesempurnaan ciptaan Tuhan. Kepler menganggap elipsis adalah suatu cacat dari kesempurnaan itu.

Penemuan yang kedua tidaklah cukup mengobati kekecewaannya itu. Padahal hukum kedua ini cukup menakjubkan, bahwa luas bidang yang ditempuh oleh planet adalah sama untuk setiap jangka waktu yang sama. Dia menganggap ini kesimpulan lumrah kalau orbit adalah lingkaran dan kecepatan revolusi adalah konstan.

Tapi kepercayaannya akan kesempurnaan ciptaan Tuhan mendorong dia untuk terus bekerja. Dan sepuluh tahun kemudian Kepler menemukan hukum ketiga, bahwa jangka waktu yang diperlukan oleh sebuah planet untuk melakukan satu revolusi berkaitan dengan jarak rata-ratanya dari matahari. Dia merasa temuan inilah yang dia cari.

Di masa itu, paham heliosentris bahwa bumi mengelilingi matahari bukanlah paham yang populer. Bahkan penolakan terhadap prinsip bahwa matahari mengelilingi bumi bisa berakibat maut dan mendapat hukuman gereja. Teknologi untuk mengamati bintang dan mahkluk angkasa lain masihlah sangat terbatas.

Karena itu banyaklah yang meragukan penemuan Kepler ini, tapi kali ini dia tidak kecewa. Dia percaya nantinya temuan dia akan terbukti dan tidak merasa perlu untuk mendapat pengakuan sekarang juga. Ketika bukunya terbit, dia mengatakan, “Aku sudah menulis bukuku, dan mungkin setelah berabad baru dibaca orang. Tak apa, karena Tuhan sudah menunggu 6000 tahun untuk seorang manusia membaca dan membuktikan ayat (ciptaan) Nya.”

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah itu. Tentu saja harus kita ingat adalah bahwa Kepler bukan seorang Muslim, dan tentunya kita mempunyai aqidah keimanan kepada Allah yang berbeda dari dia. Dengan keyakinan yang dia punya dia merasa mempunyai suatu misi untuk membuktikan kesempurnaan ciptaan Tuhan.

Kita sekarang ini sebenarnya punya misi yang mirip, yaitu membuktikan kesempurnaan sistem hidup yang sudah ditetapkan Allah kepada kita. Kalau kita berhasil, kita kembali membuka mata manusia, akan kesempurnaan sistemNya. Dan kalau itu benar dan Insya Allah akan berhasil, itulah anugerah. Mungkin itulah “mu’jizat” Allah kepada kita, karena mungkin sekarang tidak terbayang oleh kita, bagaimana bisa menyelesaikan berbagai masalah yang begitu berat dan rumit.

Indonesia sekarang ini ibarat seorang kepala keluarga yang tidak hanya harus menghidupi keluarganya, tapi sekaligus juga membayar hutang-hutang keluarga. Indonesia sekarang ini ibarat pelari yang sudah ketinggalan jauh, sementara pelari di depan lari dengan kecepatan 20 km/jam, dan kita lari dengan kecepatan 10 km/jam. Kapan kita bisa mengejar ketertinggalan?

Masalah kita sangat banyak, kemampuan dan sumber daya kita sangat minim. Dalam skala kecil, itulah yang dialami Kepler. Dia harus melakukan penghitungan yang luar biasa rumit dengan alat bantu yang minim. Calculus baru ada 100 tahun kemudian setelah Newton dan Leibniz. Geometri analitik masih menunggu Descartes. Kesalahan sedikit saja pada hitungan Kepler akan berakibat cukup fatal, dan membuatnya harus mengulang dari awal.

Walaupun kita gagal di tengah jalan, teruslah belajar dan selalulah bekerja. Lihatlah berulang-ulang sistem ciptaan Allah ini, periksalah penglihatan dan ilmu yang kita miliki.

Al Mulk 3-4:
“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.

“Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”

Selama ini kita hanya melihat kesempurnaan sistem Allah di buku, hanya mendengar dalam nasehat. Kalau kita ingin melihatnya, dan membuktikannya ke semua manusia, tidak ada jalan lain kecuali terus belajar meningkatkan kemampuan kita dan selalu bekerja mengejar ketinggalan kita. Kepercayaan Kepler terhadap kesempurnaan ciptaan Tuhan mendorongnya untuk terus bekerja puluhan tahun pantang menyerah.

Dan kitapun harus memuji Kepler yang betul-betul memegang teguh misi kerjanya. Biar manusia tidak menghargai, bahkan tidak membaca hasil temuannya, dia tidak merasa kecewa. Kita mungkin tidak berhasil mencapai cita-cita besar kita ini dalam usia hidup kita. Tetapi kita berdoa dengan kerja-kerja kita, kita bisa melihat kedepan, melihat kesempurnaan, mengharap kemu’jizatan.

ariapn Bahasa, Personal

About this blog

May 5th, 2005

Keadilan means justice in English. I’m hoping to start by being just to the self (my own self, not myself). The quotation, “Don’t hasten the end result before completing the beginning, don’t begin without looking toward the end” is from a wonderful book by Sidi Ahmed Zarruq. The book, The Poor’s Man Book of Assistance was translated with added commentary by Shaykh Hamza Yusuf.

The following is about how I got the domain name itself, which maybe of some interest to Indonesians.

Saya membeli keadilan.net sekitar 6 tahun lalu untuk dipakai sebagai web site PIPKA. Sejalan dengan pergantian nama PK ke PKS, beberapa bulan lalu PIPKA memutuskan untuk berganti nama domain menjadi pk-sejahtera.us.

Saya memutuskan memakai domain ini karena kata keadilan dan makna adil yang terkandung di dalamnya merupakan nilai yang saya junjung tinggi dan berusaha memulainya. Paling tidak, mulai dari diri, seperti kutipan di atas.

All the writings in here are my own opinions. They do not reflect any one or any organization (ever) affiliated to me or to the domain.

ariapn Bahasa, Personal

Books I read/listened to recently …

April 20th, 2005

that I find interesting but too lazy to write about:

  • Story of Philosophy by Will Durant. He has a way with his choice of words, which work especially well with this lengthy subject without the space of the massive Story of Civilization.
  • Game Theory and the Social Contract by Ken Binmore: two volumes of rivaling social contract theories from the usual suspects (Hobbes, Hume, Smith, Locke, Rousseau, Kant, Bentham, Mill) to more modern ones (Rawls, Sen). Rawls’ Theory of Justice figures prominently in the book. Harsanyi (1994 Nobel) provides some of the game theoretical arguments.
  • The Tipping Point by Malcom Gladwell. I’m currently listening to his new book, Blink. They are both pretty similar and both are wonderfully written.
  • The Eleventh Son by Gu Long: not his best work, but of this genre, he’s my favorite. I like him better than the more popular Jin Yong and even more so than the Indonesian version which I read a lot when I was in high school.
  • 70 tahun of IM by Yusuf Qaradawi. In general I really admire his views and ideas. I read several books of him, but the qualities of the writings vary. I suspect I’m at the mercy of the translators.

Speaking of Qaradawi, Abu Aadvark suggests that he’s quilty of being a Muslim,

Powerline: The real beef with Ratzinger, then, isn’t that he’s a threat to liberal democracy; it’s the fact that he agrees with the substantive tenets of his religion, including those regarding controversial social issues, and takes them seriously. Like it or not, this Pope is Catholic.

Aardvark: The real beef with Qaradawi, then, isn’t that he’s a threat to liberal democracy; it’s the fact that he agrees with the substantive tenets of his religion, including those regarding controversial social issues, and takes them seriously. Like it or not, this Islamist is Muslim.

…. to be clear, the point is not to criticize this Pope, about whom I know little beyond current press headlines, or to promote Qaradawi, about whom I’ve frequently said my piece. Just to note the odd symmetry in their views – supportive of political democracy but culturally quite conservative, although Qaradawi is probably more liberal in his approach to religious jurisprudence and sexual issues – and to note the common disconnect when talking about these issues with regard to Muslims as opposed to Christians in certain circles.

ariapn Books

Komponen Partai Politik Modern

March 18th, 2005

Untuk kelangsungan suatu partai politik, saya pikir ada tiga komponen utama (Tolong dibedakan kelangsungan politik kita dengan kelangsungan organisatoris.):

  • Ideologi: menggodok konsep siapa kita, mau kemana kita, bagaimana meyakinkan orang lain untuk ikut kita. Utamanya tentu saja menyangkut kaderisasi.
  • Policy: menggodok posisi kita di bidang-bidang umum. Rakyat ingin dan harus tahu apa posisi kita di bidang pendidikan, ekonomi, hukum, dll. Dan bagaimana kita berencana meraih posisi itu.
  • Politik: menggodok strategi “perang” kita. Ini mungkin yang disebut politik praktis, yang sering diberi label politik itu kotor dll. Komponen ini mencakup berbagai strategi pemilu: tahu siapa basis pemilih kita, bagaimana meluaskan basis itu (mungkin dengan mengambil basis pemilih partai lain), bagaimana menyiasati perbagai peraturan Pemilu.

Komponen politik ini juga mencakup perang di forum publik: bagaimana kita mempublikasikan posisi kita, melemahkan posisi lawan. Tidak hanya kita harus memilih policy yang “baik”, kita juga harus tahu bagaimana kesiapan publik menerima policy itu (polling misalnya), dan kita juga harus bisa mengemas dan menampilkan policy itu dengan “cantik”.

Kasarnya, lewat komponen ini kita ingin menang dan mengalahkan lawan. Menang di Pemilu, menang di forum DPR/D, menang di mata publik. Selama ini kemenangan kita di mata publik adalah dalam masalah moral credibility belum policy capability. Sekarang saatnya kita mulai serius memikirkan ini. Tulisan saya sebelumnya tentang motivasi vs konsekuensi berhubungan dengan komponen yang ketiga ini.

Pada akhirnya tentu saja semuanya akan kembali ke garis start. Setelah kita menang di mata publik, bagaimana publik itu masuk dan menjadi bagian kita lewat kaderisasi, dan selanjutnya.

ariapn Bahasa, Politics

Motivasi vs Konsekuensi dalam Debat Kebijakan Publik

March 18th, 2005

Ada beberapa hal penting mengenai perdebatan kebijakan publik. Saya soroti dari sudut good governance. Jadi maaf kalau secara normatif kurang sesuai. Input sangat ditunggu, karena ini tulisan cepat dan singkat, yang pastinya akan menambah kesalahan.

Kali ini saya bahas masalah motivasi vs konsekuensi.

Saya ambil contoh diskursus “privatisasi Indosat”. Kalau secara umum kita tidak setuju aset negara dijual, kita bisa berargumen, “itu kan bagian dari KKN dengan Singapura”. Jadi yang kita permasalahkan adalah motivasinya. Kalau memang ada bukti KKN yang kuat silakan dibawa ke pengadilan dan dipublikasikan ke media masa.

Tanpa bukti yang jelas, lebih baik kita berbicara mengenai konsekuensi dari kebijakan tadi. Kalau tujuan penjualan adalah agar kinerja Indosat membaik, apa argumentasi kita? Kalau tujuannya supaya harga telkom menurun, kenapa hal itu tidak bisa terjadi dan selanjutnya.

Contoh lain, misalnya “pelebaran jalan Sudirman-Thamrin di Jakarta”. Kita bisa saja mempertanyakan motivasinya, “itu hanya melayani orang kaya yang pakai mobil untuk kerja.” Di lain pihak kita bisa melihat konsekuensinya, “kalau jalan lebar dan lancar, pasti lama-lama semakin banyak yang tertarik naik mobil, akhirnya jalanan penuh dan macet lagi.”

Banyak contoh lain yang cukup memperlihatkan, bahwa dalam hal kebijakan publik, mempertimbangkan konsekuensi lebih penting daripada motivasi. Pilihan ke SBY, merupakan pilihan konsekuensi. Konsekuensi dari tidak menangnya SBY adalah kelanjutan pemerintahan Mega.

Memperdebatkan motivasi saja tanpa melihat konsekuensi, menurut saya adalah tidak sehat. Motivasi biasanya tidak tampak dhohir dan karenanya susah dijadikan pijakan. Kalau boleh saya ambil contoh kisah Usama bin Zaid yang membunuh orang setelah dia mengucapkan “laa ilaaha illallaah”. Usama bin Zaid mempertanyakan motivasi pengucapan kalimat tadi. Tetapi Rasulullah menekankan konsekuensinya, yaitu dia tidak boleh dibunuh.

Yang kedua, hal ini juga kurang mendidik kita sendiri maupun masyarakat umum. Usulan dari “lawan” langsung kita tolak tanpa dipelajari lebih lanjut. Mungkin saja motivasinya memang mencurigakan, tapi bagaimana kalau konsekuensinya ternyata menguntungkan kita. Kita harus terbiasa melihat ke depan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, apa konsekuensi dari suatu kebijakan. Banyak kebijakan yang ternyata menimbulkan konsekuensi yang tak terduga. Penambahan jam sekolah tidak otomatis membuat anak semakin cerdas. Kenaikan gaji PNS tidak selalu membuat mereka lebih makmur dalam arti real. Kenaikan upah minimum ternyata malah menambah pengangguran dan sebagainya.

Adanya polemik tentang konsekuensi suatu kebijakan juga akan mendidik masyarakat bahwa pilihan mereka punya makna dan akibat. Selanjutnya masyarakat akan terbiasa menuntut terciptanya hasil/konsekuensi tadi. Apa gunanya bagi masyarakat kebijakan yang niatnya baik tapi tidak berhasil memperbaiki mereka. Dan akhirnya, ini menuntut kita untuk terus meningkatkan kemampuan kita dalam memilih dan menjalankan suatu kebijakan.

Dua ciri utama Publik Argumen adalah:

  • Mewakili orang banyak: paling tidak mewakili konstituen kita. Tapi lebih dari itu, kita harus selalu menyampaikan argumen kita dalam bahasa dimana orang banyak bisa memahami dan dalam forum dimana orang banyak bisa ikut serta.
  • Mempunyai efek ke orang banyak: keputusan dan pilihan yang kita buat akan berpengaruh ke kepentingan orang banyak, tidak hanya ke kita sebagai partai saja.

Dalam hal ini saya pikir masalah konsekuensi lebih mudah dipahami dan dirasakan efeknya oleh masyarakat umum, daripada masalah motivasi.

Sekali lagi, saya tidak membahas bagaimana dan faktor apa saya yang harus diperhitungkan ketika kita mengambil suatu keputusan (internally), tapi bagaimana mengkomunikasikan keputusan tadi dan mendebat alternatif yang diajukan orang lain dalam forum umum.

ariapn Bahasa, Politics

My Way Out

March 1st, 2005

Download Traditional Arabic Font

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

At-Talaq 3:

Wa yarzuqhu min haythu la yahtasibu wa man yatawakkal ‘ala Allahi fa huwa hasbuhu inna Allaha balighu amrihi qad ja’ala Allahu li kulli shayin qadran

And He provides for him from where he does not reckon. And whoever puts trust in Allah, so Allah is sufficient for him. Surely Allah will accomplish His purpose. And Allah has set a measure for all things

The following is an excerpt of commentary on this ayah, from Tafsir Ibn Kathir:

Whoever has Taqwa of Allah in what He has commanded and avoids what He has forbidden, then Allah will make a way out for him from every difficulty and will provide for him from resources he never anticipated or thought about… Allah will execute His decisions and judgement that He made for him, in whatever way He wills and chooses

ariapn Personal

Detached (another kind)

February 23rd, 2005

Reading some of the obituaries of Kuntowijoyo I feel a sense of a great loss that I didn’t know much about him. Having been abroad for my entire adult life, I lack the social, intellectual, and organizational experiences that come from, for instance, being in campus and active in its varieties of movements. I don’t know (or know little) about a lot people I should know (more). This doesn’t have to mean knowing them personally, but I’d like to know their histories, thoughts, influences, etc. So I’d need to know people who know them, and being in campus certainly would help.

However, being in the right place at the right time is not sufficient. The campus was rather polarized 10-15 years ago. I might be in one “side” without knowing much about the other side. At least that’s what I’ve been observing from some of my friends. That’s why it’s very encouraging to see all sides are active in politics right now one way or another. This means there are interactions from all sides in the highest level, which should bode well for interactions in the lower levels. And those lower level interactions, which necessarily have been started 5-10 years ago, make the higher level ones possible.

ariapn Personal