When the Going Gets Tough

February 14th, 2006 No comments

Hardship brings ease, difficult matters necessitate facilitation. The role of knowledge is very important to see if facilitation is really necessary or what kinds of facilitation is applicable. If applied to self and the matters are not clear or knowledge is not had, it’s recommended to be guarded.

Some obligations are purposefully difficult. That is, some of their purposes are for us to experience hardship. Holding on to them might be like holding on to a coal for some of us. It’s going to be hot and tough. But, it doesn’t mean we can throw away the coal. We need the coal, facilitation in no way relinquishes responsibility.

Categories: Personal Tags:

Knowledge

January 10th, 2006 No comments

“Are those who know equal to those who know not?” Even if both of them are wrong, they are not the same. It’s safer to be (with) the ones who reach conclusions based on sound knowledge. Even when they’re wrong they’re not far away from the the truth. Their efforts are rewarded and rewarding.

“Do you believe in part and reject the rest?” This can happen when conclusions have been reached and then (only) supporting evidences provided. Sound knowledge means comprehensive understanding.

Categories: Personal Tags:

Micro Experience vs Macro Policy

November 12th, 2005 No comments

The debate about BLT and its effectiveness gets me thinking. Probably, one of the most common mistake of policy making by populist-leaning decision makers is to generalize a micro experience and mold it into a macro policy. Of course it doesn’t have to be a first-hand experience. With the social and geographical gaps so wide, the number of personal experiences is small anyway.

The main culprits of influence are the news media through no fault of their own. The common “dog bites man” phenomena won’t make any news headlines. Instead, a compelling experience, especially if there are several similar ones, gets repeated through news cycle by different media. After a while the exception becomes the rule.

It goes without saying that exceptions are important in making decisions. Rawls would say that the policy should be designed to benefit the least-advantaged the most. I concur, if those benefits are weighed against the costs “properly” for everyone over period of time (not just here and now). Proper analysis can be done through accurate data gatherings and honest statistical readings.

Categories: Economics, Politics Tags:

Fuel Policy and Politics

October 5th, 2005 1 comment

I must applaud SBY’s decision to raise fuel price as a matter of policy. Politically, this decision is very unpopular, at least for now. The popular pressure to keep the price at its current level would be very happy to support him if he gives in.

Politically, SBY must be pretty sure that not only this policy will work, but also it will give him results relatively quickly, before 2009 election. Then, he has to hope that the voters can connect the change in their situation to him. Voters don’t have long memory, and 3-4 years is a long time in political time.

His decision might also be based on the prediction that the current economic situation cannot sustain itself for extended period of time. Again, the period is about 3-4 years. Otherwise, he could hang on to the popular support until after the next election, before inflation and other negative effects of fuel subsidy take over.

Update: Aco agrees with me, with better economic analysis.

Categories: Economics, Politics Tags:

Incomplete Information Equilibria

September 7th, 2005 No comments

Equilibria when actions are taken after knowing own type but not the others’:

  • Dominant: Best response to every collection of actions of the other players knowing all types (ex post).
  • Ex post: Best response to every equilibrium actions of the other players knowing all types (ex post).
  • Bayesian Nash: Best response to every equilibrium actions of the other players knowing own type (interim).
  • Ex ante: Best response to every equilibrium actions of the other players knowing no types (ex ante).

Dominant => ex post => Bayesian Nash (interim) = ex ante almost surely.

Categories: Games Tags:

Ultimatum Game: Keadilan dalam Kesejahteraan

July 30th, 2005 3 comments

Ingatlah ketika Umar menemui Rasulullah duduk di atas tikar, hanya berpakaian sehelai kain, dengan bekas-bekas tikar di badannya. Di sekeliling Rasulullah hanya ada sedikit gandum, dan daun penyamak kulit. Melihat itu Umar menangis dan ketika Rasulullah bertanya kenapa, Umar menjawab,

Bagaimana aku tidak menangis, melihatmu ya Rasulullah, sementara Kisra Persia dan Kaisar Romawi dikelilingi oleh buah-buahan dan sungai-sungai. Engkau adalah Nabi Allah dan pilihan Nya, tetapi hanya inikah kekayaanmu?

Jawaban Rasulullah kepada Umar melengkapi kisah tadi dan memberikan kepada kita pelajaran yang luar biasa dalam. Tetapi di dalam tangisan dan kata-kata Umar itu sendiri terkandung pelajaran yang lama mengusik game theorists. Kita bisa melihat ini dalam ultimatum game.

Pilih dua orang untuk bermain, A dan B dan kesempatan untuk mendapatkan sejumlah uang, misal $10. A harus membagi uang $10 tersebut. A menawarkan kepada B apakah bersedia menerima $x, 0 < x < 10. Kalau B menerima ultimatum tersebut, A mendapat $(10-x) dan B $x. Kalau B menolak, keduanya tidak mendapat sepeserpun.

Permainan ini sudah dicoba di berbagai penjuru dunia dengan budaya yang beragam. Eksperimen dilakukan dengan berbagai komposisi A dan B, termasuk mereka yang belum pernah bertemu dan tidak akan bertemu setelah eksperimen ini. Bahkan dalam bentuk yang sedikit berbeda, tapi meneliti hal yang sama, pernah dicoba juga pada monyet. Hasilnya cukup mengejutkan, paling tidak bagi ahli ekonomi.

Sebagai manusia ekonomi yang berpikir rasional, seharusnya B menerima berapa saja tawaran A. Sekecil apapun x, x tetap lebih besar dari pada tidak mendapat apapun kalau B menolak tawaran A. Tetapi eksperimen menunjukkan tawaran rendah selalu ditolak. Yang menarik, ternyata A juga sudah mengantisipasi kemungkinan ini, dan jarang sekali ada tawaran yang terlalu rendah. Jumlah yang paling sering ditawarkan oleh A adalah $5.

Permainan ini menunjukkan adanya ketidakrelaan terhadap kesejahteraan yang didapatkan dengan ‘tidak adil’. Ketidakadilan di sini bukan berarti ada pelanggaran hukum atau penindasan terhadap pihak tertentu. Ketidakadilan di sini merujuk pada perbandingan kerja dan penghasilan yang sesuai. Dalam permainan ini, A tanpa usaha apapun, hanya karena keberuntungan, berhak membagi uang. B merasa hal tersebut tidak adil. Yang lebih mengejutkan, B bahkan rela mengorbankan bagiannya supaya A tidak menikmati buah ketidakadilan tersebut.

Ketika eksperimen ini diubah, misalnya dengan memberitahu B bahwa A dipilih karena prestasinya, maka hasilnyapun berubah. B menerima berapa saja tawaran A. B merasa sekarang A mempunyai hak untuk membagi uang tersebut. Bagi Umar, Rasulullah-lah yang diberikan hak oleh Allah terhadap semua kekayaan dunia. Kaisar Persia tidak mempunyai hak sedikitpun, dan Umar bersedia berjuang menghilangkan ketidakadilan tersebut. [Jawaban Rasulullah nantinya menunjukkan bahwa perjuangan haruslah dilakukan, tetapi tujuannya bukan sekedar itu.]

Sebagai Muslim, seharusnyalah kita sadar apa hak saudara-saudara kita. Janganlah kita merasa mereka tidak berhak mendapatkan rejeki, karena kurangnya usaha mereka di mata kita. Mempertanyakan hak seseorang atas rejeki dan kenikmatan berarti mempertanyakan kekuasaan Allah sebagai pembagi rejeki dan kenikmatan tersebut.

Di sisi lain, sebagai sebuah organisasi, kita adalah kumpulan manusia yang tidak luput dari berbagai perasaan ketika melihat kesejahteraan sebagian saudara-saudara kita. Apalagi kalau keberhasilan itu dicapai di atas perjuangan dan kerja keras sebagian yang lain. Manusia pada fitrahnya merasa hanya berhak mendapatkan apa yang dia usahakan. Dan diapun sebenarnya merasa bersalah kalau apa yang dia dapatkan bukanlah yang dia usahakan. Di saat organisasi semakin sejahtera, semakin berhati-hatilah menjaga keadilan. Tolaklah kesejahteraan yang datang tanpa usaha anda. Atau lebih penting lagi, bekerja keraslah, sehingga ketika kesejahteraan datang, nikmatnya bisa terasa tanpa ada rasa ketidakadilan.

Categories: Bahasa, Games Tags:

Western Intellectual Tradition (2. Liberalism)

July 19th, 2005 No comments

Sorry for the long delay. I must also warn/apologize that this is not exactly the continuation of the other post, not in style or even the language. I wrote this piece for another blog. It covers the period of liberalism between 17th to 19th century. If this is the next period of intellectual tradition, the focus should be more on the liberalism of thought. The piece is more on liberalisms of politics and economics, although I also touched upon liberalisms of thought in science and religion. Here it is in Bahasa.

Berbagai revolusi melahirkan, membentuk dan sekaligus dilahirkan dan dibentuk oleh liberalisme. Ibarat bibit, kelangsungan hidupnya untuk menjadi pohon tergantung dimana dia berada. Karakteristik pohon tersebut adalah karakteristik lingkungan tempat dia tumbuh. Dan sebagai pohon, dia juga mempengaruhi kualitas udara dan tanah habitatnya.

  • Revolusi Iptek
    Reformasi gereja di abad 16, dilanjutkan dengan perang agama di abad 17 mendorong banyak rakyat Eropa mulai skeptis tentang siapa yang benar dalam konflik ini. Sebelumnya mereka yakin raja mempunyai kuasa langit (divine rights) yang tidak bisa diganggu gugat.

    Revolusi iptek abad 17 dan 18 memberikan inspirasi bahwa kebenaran bisa didapat melalui metoda ilmiah. Apa yang diterima melalui panca indra (observasi, empiris) harus diverifikasi oleh nalar (matematis). Apa yang dibuktikan oleh matematika (nalar) harus didukung oleh bukti-bukti empiris hasil observasi.

    Hasil-hasil yang dicapai Newton, misalnya, membuat orang percaya bahwa alam semesta ini teratur dan berjalan sesuai hukum Tuhan, bukan hukum agama yang dibawa gereja. Keberhasilan metoda ilmiah untuk memahami alam semesta mendorong para pemikir untuk mengaplikasikan nalar dan metoda empiris ke ilmu sosial.

    John Locke, pemikir dari Inggris, berpendapat bahwa sebagaimana alam semesta yang berjalan sesuai dengan aturan dari Tuhan, demikian pula manusia. Aturan yang mendasari keberadaan manusia adalah hak-hak individunya, yaitu kehidupan, kebebasan dan pemilikan.

  • Revolusi Amerika
    Pengaruh terbesar John Locke ada pada Revolusi Amerika. Di Amerika menyebar kesadaran bahwa raja tidak punya hak mutlak atas rakyatnya (monarki absolut). Rakyat Amerika tidak mau membayar pajak yang besar hanya untuk menambah kas Inggris, tanpa kompensasi perwakilan dan pemerintahan. Kewajiban yang dibebankan tersebut dianggap melanggar nilai-nilai kehidupan dan kebebasan.

    Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan deklarasi kemerdekaan Amerika oleh Jefferson. Tidak seperti Locke, Jefferson menganggap hak milik bukanlah hak yang samawi. Dia menggantinya dengan hak mengejar kebahagiaan, yang mungkin ada kesamaan dengan ide Aristoteles sebagai tujuan hidup. Hak-hak ini kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai kewajiban negara untuk melindungi kepentingan rakyatnya (Bill of Rights – Madison).

    Perlu diingat, hak-hak tersebut pada awalnya hanya berlaku untuk laki-laki merdeka. Baru tahun 1920, wanita ikut dalam Pemilu nasional di AS. Lebih parah lagi adalah masyarakat kulit hitam, yang hak-haknya lama menjadi korban kepentingan ekonomi dan alat bagi orang-orang yang punya hak penuh untuk mengejar kebahagiaan mereka.

  • Revolusi Industri Liberalisme Ekonomi dan Kapitalisme
    Populasi Inggris di abad 17 dan 18 mengalami lonjakan pesat. Selain itu, dengan lancarnya jalur pelayaran ke Asia dan Afrika, mengalirlah kekayaan hasil eksploitasi kedua benua tadi. Hal ini menciptakan golongan baru, di luar kelas tradisional seperti gereja dan bangsawan, yang mempunyai kapital besar. Modal tenaga kerja dan kapital ini ditambah dengan ditambah dengan berbagai penemuan, seperti mesin uap, mendorong tumbuhnya berbagai industri baru.

    Revolusi industri inilah yang menjadi lahan berkembangnya liberalisme ekonomi. Ide Adam Smith tentang pembagian kerja dan spesialisasi untuk mengoptimalkan produksi diterapkan di berbagai pabrik. Bahan dan hasil industri diperdagangkan di pasar bebas dengan seminimal mungkin campur tangan pemerintah (invisible hand), dan didasarkan atas asas comparative advantage.

    Ini semua menciptakan, paling tidak bagi kaum bermodal, kebebasan dan kesetaraan ekonomi (dalam berdagang, investasi, dll) yang menjadi awal dari kapitalisme.

  • Revolusi Perancis Liberalisme Politik dan Nasionalisme
    Revolusi Amerika terjadi lebih dahulu daripada Revolusi Perancis, tetapi karena jarak dan ketidak-tahuan, pengaruhnya hampir tidak terasa di Eropa daratan. Revolusi Perancis dan kejadian setelahnya, di lain pihak, membawa pengaruh besar di Eropa daratan terhadap kesadaran akan kebebasan dan kesetaraan berpolitik, sesuai dengan slogannya.

    Revolusi ini menghilangkan diskriminasi agama (Katolik vs Protestan). Rakyat menjadi punya kebebasan mengemukakan pendapat dan menentang penguasa. Kesetaraan juga berarti rakyat merasa punya status yang sama dengan bangsawan dan ahli gereja. Akhirnya, terjadi perombakan institusi pemerintahan besar-besaran dari bentuk monarki menjadi republik.

    Setelah Revolusi, Napoleon merusak batasan-batasan geografis dan tradisi dari kerajaan-kerajaan Eropa waktu itu. Selain itu, rakyat biasalah yang melawan Napoleon, bukan kalangan bangsawan atau gereja. Mereka merasa punya kewajiban untuk membela tanah air dan ikatan dengan sesama rakyat, bukan ikatan pada kerajaan. Ikatan nasionalisme ini melahirkan tuntutan akan hak-hak rakyat untuk terlibat dalam pemerintahan. Inilah awal runtuhnya berbagai kerajaan, dan lahirnya berbagai negara Eropa modern yang kita kenal sekarang ini.

Perubahan yang dibawa liberalisme di berbagai bidang membawa berbagai reaksi dari berbagai golongan. Selain itu juga timbul perbedaan pandangan yang menjadi awal evolusi liberalisme itu sendiri.

  • Konservatisme
    Golongan ini menentang penekanan liberalisme pada hak-hak individu yang menyebabkan terabaikannya tradisi kolektif suatu masyarakat. Misalnya, mereka memandang liberalisme merusak tradisi dan nilai-nilai sosial kebangsawanan. Mereka menganggap masa lalu lebih baik dan tradisi sosial harus dijunjung tinggi.
  • Sosialisme
    Di lain pihak, penganut paham sosialisme merasa liberalisme perlu dibawa lebih jauh lagi. Kebebasan ekonomi dan revolusi industri menciptakan berbagai efek samping dalam kehidupan sosial yang timpang. Karena itu, golongan ini berpendapat kebebasan mungkin harus dikorbankan demi kesetaraan.
  • Utilitarianisme
    Asas dari paham yang digagas oleh Bentham dan Mill (Inggris) ini adalah memaksimalkan manfaat untuk sebanyak-banyak orang. Paham ini tumbuh subur di Inggris dan merupakan salah satu sebab liberalisme politik di Inggris berjalan relatif damai, selain pengaruh Revolusi Amerika dan status Inggris sebagai negara Protestan.

    Di bidang politik, penekanannya adalah pada perubahan konstitusional bukan perubahan institusi seperti Revolusi Perancis yang berdarah. Perubahan konstitusional dipandang lebih membawa manfaat yang besar untuk banyak orang. Inilah mengapa sampai sekarang monarki masih bertahan di Inggris.

    Dari asasnya, jelas bahwa paham ini mendukung timbulnya demokrasi dan pemilihan umum untuk mengetahui jumlah orang yang paling merasakan manfaat dari suatu aturan. Pengaruh paham ini pada iptek juga mendukung revolusi industri. Prioritas di bidang pendidikan diberikan kepada iptek terapan, yang manfaatnya lebih terasa langsung.

    Kritik terhadap paham ini terutamanya menyangkut penghitungan dan pendefinisian manfaat yang sangat relatif di setiap orang ataupun budaya. Juga timbul kritik terhadap pemenuhan manfaat semata dengan mengabaikan kebebasan. Misalnya, orang yang merasa terpenuhi semua kebutuhannya (melalui obat-obatan, atau seperti dalam novel terkenal, A Brave New World), tapi terikat kebebasannya.

  • Kontrak Sosial
    Kalau semua orang bebas melakukan apa saja, bagaimana negara dan hukum tercipta? Pertanyaan itulah yang ingin dijawab melalui kontrak sosial. Thomas Hobbes merasa pesimis dengan sifat dan kelakuan manusia. Menurutnya, kalau dibiarkan saja, manusia akan saling mencelakakan. Karena itulah manusia melakukan kontrak sosial dan membentuk suatu negara yang berkuasa untuk melindungi rakyatnya.

    Sementara itu, Adam Smith lebih optimis dalam penilaiannya terhadap manusia. Dia melihat manusia masih punya sifat baik dan ingin menolong. Bahkan dengan usahanya untuk memperbaiki dirinya sendiri, setiap individu akhirnya memperbaiki masyarakatnya. Karena itulah peran negara harus dikurangi, karena individu bisa menjaga diri sendiri dan menolong orang lain yang kurang mampu.

Categories: Personal Tags:

Registry

June 9th, 2005 No comments

I hate that registry is the most important component in Windows and very poorly documented.

I keep needing and forgetting the following, so I’ll just write it here.

remote_registry_edit_permission: HKLM\System\CurrentControlSet\Control\SecurePipeServers\Winreg

Categories: Microsoft Tags:

Menganalisa Komitmen dengan Game Theory

June 5th, 2005 4 comments

Collecting my old writings – June 2003.

Bulan Ramadhan, tahun 92 H, pasukan Muslim mendarat di Gunung Tariq, dan disambut oleh pasukan Gothic Spanyol. Setelah tiga hari berperang, masih berpuasa Ramadhan, posisi pasukan Muslim mulai melemah. Malam harinya, panglima perang Tariq bin Ziyad memberi perintah untuk membakar armada kapalnya. [Ada perbedaan pendapat di kalangan sejarawan Muslim tentang peristiwa ini. Al Mubarakfuri misalnya, berpendapat peristiwa pembakaran kapal ini benar terjadi.]

Dengan latar belakang kapal di tepi lautan terbakar, beliau membakar semangat pasukannya dengan kata-katanya yang terkenal, “Di depanmu musuh menunggu, di belakangmu laut membentang. Tidak akan ada lagi yang menolongmu, kecuali kepahlawanan darimu dan bantuan dari Allah”. [Mann, J.H. A History of Gibraltar and Its Sieges. London: Provost, 1870.] Tariq tahu apa yang dia lakukan ini tidak saja akan dilihat oleh pasukannya, tetapi juga oleh pasukan lawan. Dan yang lebih penting lagi, efeknyapun akan dirasakan dan diperhitungkan oleh kedua pasukan tersebut.

Dalam ilmu Game Theory, apa yang dilakukan oleh Tariq adalah salah satu upaya untuk meningkatkan komitmen pasukannya dalam pertempuran. Tariq mengatakan kita tidak punya alternatif lain selain bertempur mati-matian. Mundur tidak mungkin, laut ada di belakang. Mengharapkan bantuan juga tidak akan datang, karena mereka berada jauh dari pusat kekuatan muslim.

Game Theory menganalisa interaksi sosial manusia menggunakan model permainan. Model ini memakai analisa matematika untuk membantu memahami pilihan strategi yang harus diambil oleh setiap pemain. Sebagaimana suatu permainan, setiap pemain ingin menang, karena itu dia harus mengambil keputusan yang terbaik, yang akan membawa kemenangan baginya. Walaupun teorinya sudah diformulasikan sejak lama, tapi baru dalam dekade terakhir ini model ini banyak mendapatkan perhatian. Hal ini sejalan dengan keberhasilan Game Theory, terutama di dunia bisnis dan politik, sebagai alat analisa mengapa suatu keputusan diambil, dan bagaimana suatu strategi dijalankan.

Kita akan memanfaatkan ilmu ini untuk menganalisa bagaimana meningkatkan kualitas komitmen kita. Salah satu caranya, seperti yang dilakukan Tariq ke pasukannya, adalah menghilangkan pilihan untuk mundur dari komitmen tersebut. Kalau kita tidak punya pilihan lain, komitmen kita hanyalah ke pilihan satu-satunya yang tertinggal. Strategi Tariq ini sejalan dengan Sun Tsu dalam Seni Berperangnya, “Kalau musuh sudah terkepung, beri lubang bagi mereka untuk melarikan diri”. Kalau tidak ada jalan lain, mereka akan bertempur mati-matian.

Kalau komitmen kita adalah di jalan dakwah, kita harus menghilangkan pintu-pintu menuju jalan maksiat dan jalan-jalan lain yang akan membuat kita bimbang akan komitmen kita. Hilangnya alternatif ini juga harus dilihat oleh lawan kita. Kalau lawan tahu kita masih punya alternatif untuk mundur, strategi mereka adalah untuk sekedar mendesak kita agar kita mundur, tanpa mereka perlu berkorban banyak. Tetapi kalau mereka melihat alternatif kita hanyalah berazam seratus persen, mereka akan ragu untuk mengimbangi hal ini. Karena, kalau kedua belah pihak bertempur mati-matian maka korban yang jatuh akan besar. Itulah yang terjadi pada pasukan Gothic yang dipimpin Roderick, mereka menjadi ragu apakah mereka siap mati. Mereka punya alternatif lain yang menarik, yaitu menyerah, karena bagi mereka kehidupan lebih bernilai daripada kematian.

Kontrak: Strategi lain untuk meningkatkan komitmen kita adalah mengikat kontrak. Kontrak mempunyai nilai hukum dengan segala konsekuensinya. Kontrak biasanya disetujui untuk jangka waktu tertentu. Ini berarti harus menunjukkan komitmen kita untuk memenuhi kontrak kita tidak hanya sekali, dua kali, tapi secara terus menerus, dalam jangka waktu panjang.

Kontrak ini dipakai oleh IBM di tahun 1980an untuk meraih keuntungan besar dari bisnis komputernya. Bisnis komputer pada waktu itu masih dimonopoli oleh IBM, harganya tidak terjangkau untuk perorangan. Harga yang mahal ini disebabkan oleh biaya R&D yang sangat tinggi. Strategi IBM adalah menganjurkan calon pembeli untuk menyewa tidak membeli komputer tersebut. Dengan sistem sewa tersebut, IBM menjamin bahwa komputer yang dipakai tidak akan ketinggalan jaman. Jadi, IBM meminta komitmen konsumer untuk terikat dengan komputernya, dan berhasil membiayai biaya pembuatan awal komputer yang agak tinggi tersebut. Kalau konsumer membeli satu komputer, kemudian IBM mengeluarkan versi baru dalam jangka waktu dekat, dengan harga yang cukup tinggi, konsumer akan enggan untuk membeli yang baru.

Bagi kita, tidak saja kontrak ini mempunyai nilai hukum dan komersial, tapi juga kewajiban kita untuk memenuhi janji.

Reputasi: Reputasi sangat penting dalam dunia bisnis dan politik. Bisnis yang sudah terkenal namanya, akan berkomitmen untuk menjaga mutu barang atau layanannya, tidak saja untuk menarik pelanggan, tetapi juga karena kekhawatiran kalau-kalau reputasinya jatuh. Partai politik kecil, pada waktu Pemilu, mudah saja berjanji untuk memberantas KKN, karena disamping kemungkinan menang kecil, juga biasanya tidak ada reputasi yang harus dijaga. Tetapi, kalaupun partainya kecil, tetapi reputasinya sudah bagus, keinginan untuk menjaga reputasi akan kuat. Kalau reputasi sudah hancur, susah untuk membangunnya kembali, dan meraih kepercayaan rakyat.

Tentu saja menjaga reputasi kita adalah tujuan antara, tujuan akhirnya adalah menjaga reputasi dan menegakkan nama Allah. Khalifah Umar bin Khattab mengganti Khalid bin Walid sebagai penglima, karena reputasinya lebih besar daripada reputasi Islam. Ketika Khalid bertemu Umar dan bertanya tentang penarikannya, Umar menjawab, “Kemenanganmu telah menciptakan kesan yang salah bahwa kemana saja kamu berperang, pasukanmu akan menang. Dengan memanggilmu pulang, saya telah menunjukkan bahwa kemana saja pasukan Allah pergi, mereka akan menang.”

Kerjasama: Keutamaan amal jama’i Insya Allah sudah sama-sama kita ketahui. Dengan bersama-sama, kita dapat saling memberi semangat, dan membantu, kalau ada teman kita yang mulai lemah komitmennya. Contoh mudahnya, kalau sedang ada kegiatan bersama, misalnya mabit, bangun untuk sholat malam jauh lebih mudah. Dan semakin besar jumlah yang mengerjakannya, semakin besar dorongan bagi kita untuk mengikutinya.

Kerjasama tidak hanya mempunyai pengaruh ke dalam diri kita, tetapi juga ke luar, ke musuh kita. Kalau jumlah kita besar, dan semua menunjukkan komitmennya akan semakin gentar lah lawan. Strategi ini dipakai oleh Rasulullah, dalam penaklukan Makkah dan beberapa peperangan setelah itu. Dengan kekuatan yang besar, pasukan Islam membuat gentar pasukan lawan, sehingga kemenangan diraih tanpa pertumpahan darah.

Categories: Bahasa, Games Tags:

Persiapan yang Menggentarkan

June 5th, 2005 1 comment

Collecting my old writings – September 2004.

Download Traditional Arabic Font

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dirugikan (Al Anfal: 60).

Kehidupan manusia, baik dalam skala makro maupun mikro, merupakan perang, pergulatan antara yang haq dan yang bathil. Syaithan, sesuai dengan deklarasinya sebagai musuh manusia di hadapan Allah, punya ambisi yang besar dalam perang ini. Tidak hanya untuk mengalahkan manusia, tetapi juga merekrut manusia-manusia kalah tadi untuk berdiri di belakangnya, dan bergabung dalam pasukannya sebagai peserta aktif dalam perang ini.

Untuk menghadapi perang ini, Allah memerintahkan pasukanNya untuk melakukan persiapan, mengumpulkan kekuatan. Persiapan ini, tidak saja nantinya akan digunakan dalam perang yang sebenarnya, tetapi proses persiapan itu sendiri mempunyai efek psikologis yang kuat. Baik kepada diri kita, sebagai Hizbullah, sbahwa kita sudah bersiap, bahwa kita melakukan persiapan ini dalam rangka ketaatan kita kepada Allah, bahwa persiapan ini adalah bagian dari tawakkal kita kepada Allah. Dan Allah akan membalas ketaatan dan ketawakkalan kita itu dengan pertolonganNya, pertolongan kekuatan yang tidak akan terkalahkan.

Persiapan ini juga akan menimbulkan efek gentarnya musuh-musuh kita. Dan kemenanganpun bisa dicapai dengan lebih mudah, dan bahkan kekuatan yang menggentarkan itu menjadi alat perekrut pasukan musuh untuk berbaris bersama kita. Kita lihat saja bagaimana Rasulullah saw menyiapkan pasukannya menjelang Futuh Makkah. Persiapan yang menggentarkan kaum kafir Quraisy itu mengantarkan Makkah tanpa pertumpahan darah, dan memperkuat pasukan Rasulullah dengan tentara-tentara Muslim baru.

Dalam sejarah percaturan dunia, senjata nuklir menjadi “deterrent force”, karena sedemikian dahsyat kekuatannya. Bayangan fatal Hiroshima dan Nagasaki menggentarkan pihak-pihak yang menjadi sasaran senjata nuklir itu. Pihak yang lemah dan gentar itu akhirnya mengikuti ungkapan “if you can’t beat them, join them”, dan ikut berbaris bersama penguasa senjata tersebut.

Perang yang kita hadapi mempunyai berbagai macam bentuk dan tingkatan. Selama kita melawan pasukan bathil dan merekrut manusia untuk berdiri di bawah bendera Allah, maka itulah peperangan yang harus kita lakukan. Persiapan menghadapi perang pun berbeda-beda. Tidak melulu kekuatan fisik yang harus kita siapkan, kekuatan ruhiyah dan kekuatan strategi pun harus dipersiapkan. Banyaknya perang yang dimenangkan oleh Hizbullah di bulan Ramadhan menunjukkan bahwa persiapan ruhiyah mereka yang sempurna saat berpuasa menjadi sebab datangnya pertolongan Allah.

Allah mengindikasikan bahwa strategi dan perencanaan adalah salah satu bentuk persiapan yang harus kita lakukan. “Mereka berencana, dan Allah berencana. Dan Allah adalah sebaik-baik Perencana.” Kita bisa lihat juga bagaimana Rasulullah menyusun rencana dan strategi sebelum berhijrah. Dan musuhpun membuat rencana untuk menangkap Rasulullah saw. Kita harus yakin pertolongan Allah akan datang menghadapi setiap rencana musuh-musuh kita, tetapi hal itu tidak boleh menghalangi persiapan kita.

Strategi tanpa ketaatan tidak akan berhasil, seperti ditunjukkan Allah pada perang Uhud. Strategi yang sempurna tidak ada artinya tanpa pelaksana dan pelaksanaan yang baik. Ustadz Hasan Al Banna mengatakan, ada dua hal yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan: struktur dan ketaatan. Struktur mendefinisikan tujuan dan memberikan wadah bagi strategi yang akan dijalankan. Ketaatan setiap pelaksana pada struktur menjamin bahwa persiapan dan perencanaan yang ada dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Pemilu adalah salah satu peperangan itu. Kita ingin menang bukan semata karena kita ingin berkuasa, dan menjadikan kekuasaan itu tujuan akhir kita. Tetapi kita ingin menang, karena dengan kemenangan itulah lebih terbuka jalan bagi kita untuk menumpas kebathilan. Pemilu kali ini juga merupakan perang untuk mempertahankan eksistensi kita. Eksistensi Partai di era reformasi ini diperlukan sebagai wadah dan alat yang paling efektif untuk melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar kita.

Pemilu memerlukan persiapan sesuai dengan jenis peperangannya. Saudara-saudara kita di Indonesia sudah seperti kain yang tadinya basah yang sudah hampir kering karena terlalu lama dan sering diperas. Apa saja yang ada pada diri mereka habis terperas untuk mempersiapkan perang ini. Kesempatan bagi kita untuk mencontoh mereka terbuka lebar. Pemilu sudah dekat, deklarasi Partai kita di Amerika sudah di ambang mata. Kita jadikan deklarasi ini sebagai puncak persiapan kita.

Majulah ke depan dalam mempersiapkannya. Kita tahu bahwa setiap prajurit yang bertempur di barisan paling depan berada di daerah yang paling berbahaya. Apalagi kalau mereka masuk untuk merebut daerah lawan yang siap menyambut kedatangan mereka. Tapi ketaatan barisan terdepan ini kepada struktur yang ada membuat mereka terus maju, walaupun mereka harus berkorban paling banyak. Barisan demi barisan yang taat ini akan melemahkan musuh, dan akhirnya mengantarkan kemenangan.

Categories: Bahasa, Games Tags: