Archive

Archive for January, 2010

Ekspresi Penghambaan

January 14th, 2010 No comments

Tiga sikap yang berbeda terhadap suatu kesulitan, yang semuanya merupakan ekspresi penghambaan dari tiga orang shalih:

  1. Shaykh Qasim an-Nanotwi tidak pernah mengabarkan kesulitan atau musibah yang sedang menimpanya. Baru setelah peristiwa itu lama berlalu, ia menyebutkan kejadian tersebut. Baginya apa yang datang dari Allah adalah yang terbaik dan ia harus sabar menerimanya. Sabar adalah satu expresi penghambaan.
  2. Setiap kali Haji Imdaadullah mengalami kesulitan, walaupun kecil, ia akan mengeluh dan mengaduh. Ia sering ditanya kenapa tidak bersabar dan bukankah mengeluh berarti tidak rela terhadap takdir Allah. Ia menjawab bahwa ia tidak berani menampakkan kekuatan menghadapi ujian Allah. Ia memilih merendahkan dan menyerahkan diri. Dalam kesulitan ia menyeru kepada Allah, “Saya tidak pantas diuji, saya tidak punya kekuatan. Ampunilah aku tanpa mengujiku. Mengekspresikan ketidakmampuan dan ketergantungan adalah satu bentuk penghambaan.
  3. Shaykh Rasheed Ahmad al-Gangohi tidak pernah mengeluh kalau jatuh sakit. Tetapi ia sangat hati-hati terhadap sakitnya, seringan apapun. Ia akan memanggil dokter, minum obat, bertanya makanan apa yang harus dimakan atau dihindari. Orang-orang sering bertanya apakah ini tidak bertentangan dengan tawakal, apalagi hanya sakit ringan. Ia menjawab bahwa badan kita adalah pemberian dari Allah. Kita bukan pemilik badan ini dan wajib hukumnya untuk memeliharanya. Menjaga amanah adalah satu ekspresi penghambaan.

Dari buku Virtues and Etiquettes of Visiting the Sick oleh Mufti Rasheed Ahmad Fareedi.

Categories: Bahasa, Personal Tags:

Makna Din

January 13th, 2010 No comments

Kata “din” biasanya diterjemahkan sebagai agama. Dalam bahasa Arab, kata ini mempunyai beberapa makna yang saling berkaitan:

  1. Berutang: pihak yang berutang berada di posisi yang lemah dan harus mengikuti syarat dan ketentuan utangnya.
  2. Berserah diri: semakin besar utang seseorang, semakin besar ketergantungannya. Bahkan sampai harus menghambakan diri.
  3. Kekuasaan hukum: Peraturan yang harus ia  taati tidak lagi terbatas pada utangnya, tapi bagi seluruh kehidupannya.
  4. Kecenderungan yang fitrah/natural: ketentuan itu bisa diterima dengan tulus, bahkan ia mendapatkan keadilan dari hukum tersebut.

Dari membaca‘Islam and Secularism’ - Muhammad Naquib Al-Attas

Categories: Bahasa, Personal Tags:

Dua Niat

January 12th, 2010 No comments

Dari hadits Arbain no. 1.

(1) Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.

Niat ini adalah niatan untuk amalnya dan membedakan satu amal dengan amal yang lain.

(a) Niat yang membedakan satu ibadah dengan ibadah yang lain. Contoh: dua orang sholat dua raka’at. Satu orang berniat sholat subuh dan yang lain berniat untuk sholat sunat sebelum subuh. Sholatnya persis sama, yang beda hanya niatnya.

(b) Niat yang membedakan ibadah dengan kebiasaan. Contoh: dua orang mandi.  Satu orang mandi wajib karena junub dan yang lain mandi pagi sebagaimana yang ia lakukan setiap pagi.

(2) Untuk setiap orang apa yang dia niatkan.

Niat ini adalah niatan untuk hasilnya. Dua orang membaca Qur’an, satu orang berniat mendapat ridha Allah, yang lain berniat untuk pamer. Dua orang belajar Islam, satu orang berniat untuk mendakwahkan apa yang dia dapat, yang satu lagi ingin menjadi terkenal dan mencari posisi.

[Based on Shaykh Al-‘Uthameen’s explanation of the first Hadeeth of the ‘Forty Hadeeth’ of  Imam Nawawi]

Categories: Bahasa, Personal Tags: