Archive

Archive for March, 2007

Lebaran Awal

March 18th, 2007

Cerpen kuno.

“Okay everybody, that’s it for today”, kata Maryam yang kemudian membaca doa penutup. Aku lihat Maryam masih sibuk bicara dengan beberapa pengurus MSA Sister Comittee, jadi tanpa menyapanya lagi, aku langsung pergi. Aku lihat jam tangan, sudah jam 10 malam. Ramadhan tinggal 12 hari lagi, tidak terasa. Untuk acara setelah Idul Fitri, MSA Sister Comittee dapat tugas menyiapkan acara untuk anak-anak setelah sholat Ied. Jadi tadi selepas sholat tarawih semua pengurus komite rapat.

Aku masih jengkel saja rasanya, kalau teringat rapat tadi. Apalagi kalau ingat keputusan yang diambil Maryam. Jauh sebelum rapat, aku sudah menyiapkan berbagai bentuk perlombaan untuk anak-anak. Aku sudah coret-coret hadiah apa saja yang pasti menarik untuk anak-anak dan segala macam aturan lomba. Sebagian pengurus tidak setuju kalau anak-anak dilombakan, dan hanya yang menang yang dapat hadiah. Mereka maunya semua anak harus dapat hadiah, kan ini Ied, jadi semua anak menang.

Sebenarnya aku tidak keberatan kalau semua dapat hadiah, tapi lomba harus tetap jalan. Tanpa lomba, acaranya kurang menarik, dan anak-anak juga kurang bersemangat biasanya. Memang sih, anggaran akan membekak, karena selain beli hadiah untuk pemenang, MSA juga harus beli hadiah untuk anak-anak lain. Aku tadinya berharap, Maryam akan mendukungku, dan semua usahaku mempersiapkan lomba tidak hilang begitu saja. Maryam kan ketua komite, jadi keputusan akhir ada dia. Tapi ternyata dia tidak setuju dengan ideku, malah sedikit mengkritik, “Zahra, you should’ve talked to us first, before preparing anything on your own.” Akhirnya disepakati MSA akan melatih anak-anak mempersembahkan drama dan lagu, dan semua akan dapat hadiah.

Aku kenal Maryam sudah hampir tiga tahun, waktu kami masih tingkat satu. Kami sekelas di Biology 110. Waktu itu nama panggilannya masih Mary. Mary yang pertama kali mengajak aku kenalan, “you’re the first person I know who’s wearing a head scarf”. Sebelumnya dia tahu orang pakai jilbab hanya dari TV dan surat kabar. Kebetulan kami jadi partner di lab, jadi kami sering berdua. Mary banyak tanya soal Islam, dan sering pertanyaannya bikin aku gelagapan juga, karena sebelumnya tidak pernah terpikir olehku pertanyaan-pertanyaan itu. Akhirnya, aku bawa saja dia ke masjid, bertemu teman-teman di MSA.

Aku sendiri ikut banyak belajar dan aktif di MSA. Akhir tahun pertama, Mary memutuskan untuk masuk Islam. Tidak terkira rasa senangku waktu itu. Dan orang tua Mary juga sangat terbuka. Walaupun begitu banyak berita negatif tentang Islam di media massa, mereka membebaskan Mary menentukan pilihannya, dan percaya bahwa dia benar-benar serius. Sejak itu, Mary minta dipanggil Maryam, dan kami jadi semakin dekat. Tahun lalu, aku jadi ketua bagian sosial, dan dia ketua bagian dakwah. Kami sering merancang kegiatan bersama, biar “Da’wah is not too preachy”, kata Maryam. Jadi kami satukan antara kegiatan dakwah dan sosial. Biar orang mengenal Islam juga dari akhlaq orang Islam.

Tak terasa aku sudah sampai apartemenku. Aku masih teringat Maryam, dulu dia selalu memperhatikan usul-usulku. Tapi sekarang, sejak dia jadi ketua Sister Comittee, sering dia lebih memperhatikan usulan teman lain yang tidak jarang bertabrakan dengan ideku. Seperti rapat tadi. Sudahlah, batinku, nggak baik berprasangka buruk terus ke orang.

Paginya, selepas sahur dan sholat subuh, aku masih saja ingat rapat semalam. Puasa kok mikirin orang terus, keluhku. Cepat-cepat aku menyibukkan diri, mempersiapkan kelas-kelas hari ini. Ada beberapa bahan kuliah yang aku belum paham benar. Setelah aku baca bukunya, sekarang lumayan ngerti. Jadi nanti di kelas nggak bengong terus, nggak tahu dosen ngomong apa.

Jam tiga, kelas terakhirku adalah Prof. Roberts. Kelasnya susah, tapi Prof. Roberts sering memberi contoh yang membuat kelasnya lebih mudah dipahami. Hari ini dia berbicara soal kanker. Bagaimana kanker terbentuk dari sel-sel yang ada di tubuh kita. Aku kurang mengikuti apa yang dia sampaikan. “Harus baca buku nih nanti,” pikirku. Akhirnya, Prof. Roberts menutup kuliahnya, “Think of cancer as a bad cell. We have billions of cells in our body. But we may have cancer caused by a single bad cell. This one cell is bad because it cannot live with other cells, it cannot tolerate others.”

Aku langsung teringat hadits Nabi, “Orang mukmin bagaikan satu tubuh”. Masing-masih ibaratnya sel yang bersama-sama membentuk tubuh yang kuat. Jangan-jangan aku ini sel yang bisa jadi kanker yang merusak tubuh MSA. Aku bergidik mengingatnya. Selesai kelas, cepat-cepat aku pergi ke masjid untuk berbuka puasa. Aku tahu biasanya Maryam ada di masjid juga. Rasanya tidak sabar aku berjalan.

Begitu sampai di masjid, aku cari Maryam. Itu dia, baru selesai bicara dengan beberapa akhwat lain. Langsung aku peluk dia dari belakang. Maryam agak kaget. “What’s going on”, tanyanya terheran-heran. “Nothing”, aku hanya tersenyum-senyum saja. Maryam tertawa sebentar, tapi kemudian raut mukanya berubah agak serius, “I’m sorry for what I said last night.” Aku mengangguk, berbunga hatiku. Rasanya seperti sudah lebaran.

ariapn Bahasa