Archive

Archive for May, 2006

Proses Pembelajaran

May 16th, 2006

Dalam bertemu, berkumpul ataupun bergaul kita mengalami proses penularan ilmu, sadar maupun tidak sadar. Saya agak kesulitan mencari kata pengganti ilmu. Knowledge mungkin lebih tepat. Ilmu disini tidak selalu bersifat formal, tapi apa saja yang tadinya tidak kita ketahui, atau belum kita ketahui dengan benar/baik, atau belum kita endapkan.

Bagi yang sudah bekerja, proses ini bisa dijumpai secara formal dalam bentuk satu tim yang bekerja untuk suatu proyek. Anggota tim yang baru harus belajar dari anggota yang lain atau harus melihat buku petunjuk atau manual teknis.

Secara informal, proses ini banyak kita alami. Tentu saja terjadi pada interaksi keluarga. Dalam konteks organisasi, hal ini juga terjadi dalam berbagai pertemuan, berbagai rapat organisasi dan kepanitiaan, dan sebagainya. Proses pembelajaran ini sudah banyak diteliti dan juga diterapkan dalam berbagai bentuk teknik managemen proyek di berbagai perusahaan.

Permasalahan yang sering dihadapi dalam penyebaran ilmu ini adalah banyak ilmu yang sulit untuk diajarkan dan dipelajari secara ekplisit. Sebagian peneliti (Polanyi, 1966; Nonaka 1994) membuat dua klasifikasi ekstrem, ilmu yang tersurat (explicit knowledge) dan yang tersirat (tacit knowledge). Tentu saja sebagian besar ilmu ada di antara keduanya.

Tacit knowledge sulit untuk diungkapkan baik dalam bentuk tulisan maupun ucapan. Misalnya, seorang montir mobil atau dokter yang berpengalaman ketika mendiagnosa obyek mereka. Mereka sendiri sering tidak tahu bagaimana proses yang mereka jalani untuk mengambil suatu kesimpulan tertentu, apalagi untuk menuangkan proses tersebut secara ekplisit.

Tacit knowledge perlu diubah menjadi explicit knowledge supaya bisa diajarkan. Karena itu, seringkali untuk mempelajari tacit knowledge ini dilakukan kerja praktek. Dengan melihat dan meniru bagaimana pembimbing kita melakukannya, ilmu tersebut ditransfer lengkap dengan konteksnya, yaitu lingkungan tempat kejadian dan kepribadian yang mempengaruhinya.

Ini berbeda dengan jenis ilmu yang tersurat. Pengajar bisa dengan mudah memberikan fakta yang diperlukan dan instruksi yang harus dikerjakan. Kalau pengajar yang berbeda memberikan petunjuk yang sama, maka instruksi ini bisa dikodifikasi/didokumentasi untuk selanjutnya bisa dipelajari tanpa pengajar.

Dalam berbagai kerja dakwah, apa yang ingin kita sampaikan sering berbentuk tacit. Hal ini disebabkan karena pesan yang ingin kita sampaikan (seharusnya) sudah terendapkan dalam diri kita. Ketika kita menyampaikan makna syahadah, ketika kita menceritakan kisah ukhuwah sahabat, semua itu seharusnya sudah ada dalam diri kita.

Proses pengendapan ini adalah internalisasi dari apa yang kita dapat secara ekplisit lewat jasmani/indra kita menjadi bagian ruhani/bawah sadar kita. Termasuk yang explisit ini adalah apa yang kita baca, apa yang kita pelajari dari guru kita, apa yang kita dengar dari nasehat saudara kita. Semua explicit knowledge ini harus diubah menjadi tacit knowledge atau internalisasi.

Proses internalisasi ini tidak hanya mencakup seberapa banyak yang kita ingat waktu kita belajar. Tapi juga apa yang kita rasakan waktu belajar. Perasaan ini tergantung konteks kita belajar: kapan (dalam artian usia atau situasi yang ada, juga malam ataukah siang, sehabis makan atau sehabis sholat), di mana, siapa gurunya (gaya bicara, intonasi, emosi, dll), siapa murid yang lain (emosi dan hubungan kita ke mereka), apa yang sudah kita pelajari sebelumnya, bagaimana kondisi ruhiyah kita, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin semuanya dituliskan secara tersurat.

Karena itulah berbagai pertemuan — walaupun yang dibahas terkadang serba mirip — memiliki andil dalam proses internalisasi ini. Semuanya memilki format yang mirip tapi konteks yang selalu sedikit berbeda, sehingga apa yang kita dapatkan-pun selalu lain. Seharusnya pertemuan menjadi proses pembelajaran yang berjalan terus menerus dan timbal balik.

Tentunya kewajiban kita tidak berhenti di internalisasi saja. Kita belajar dan mengajar, mengendapkan dan menyampaikan. Kewajiban untuk menyampaikan berarti kita harus melakukan proses ekternalisasi, mengubah tacit knowledge tadi kembali menjadi explicit knowledge.

Kalau eksternalisasi dan internalisasi mempunyai konteks yang mirip, maka akan jauh lebih mudah untuk menyampaikan apa yang sudah mengendap tersebut.

Sejarah dakwah di Indonesia cukup menjadi bukti. Proses internalisasi terjadi melalui interaksi yang kuat dan berulang dalam berbagai konteks yang sangat mendukung pengendapan. Pengalaman menjadi faktor penting dalam proses ini. Konteks yang kita alami, kita ingat kemudian kita endapkan.

Konteks ini kemudian kita jabarkan dan kita sertakan waktu kita melakukan penyampaian. Tanpa pengalaman tadi, apa yang kita sampaikan kekurangan konteks yang diperlukan untuk proses internalisasi generasi berikutnya.

ariapn Bahasa, Personal