Archive

Archive for March, 2005

Komponen Partai Politik Modern

March 18th, 2005

Untuk kelangsungan suatu partai politik, saya pikir ada tiga komponen utama (Tolong dibedakan kelangsungan politik kita dengan kelangsungan organisatoris.):

  • Ideologi: menggodok konsep siapa kita, mau kemana kita, bagaimana meyakinkan orang lain untuk ikut kita. Utamanya tentu saja menyangkut kaderisasi.
  • Policy: menggodok posisi kita di bidang-bidang umum. Rakyat ingin dan harus tahu apa posisi kita di bidang pendidikan, ekonomi, hukum, dll. Dan bagaimana kita berencana meraih posisi itu.
  • Politik: menggodok strategi “perang” kita. Ini mungkin yang disebut politik praktis, yang sering diberi label politik itu kotor dll. Komponen ini mencakup berbagai strategi pemilu: tahu siapa basis pemilih kita, bagaimana meluaskan basis itu (mungkin dengan mengambil basis pemilih partai lain), bagaimana menyiasati perbagai peraturan Pemilu.

Komponen politik ini juga mencakup perang di forum publik: bagaimana kita mempublikasikan posisi kita, melemahkan posisi lawan. Tidak hanya kita harus memilih policy yang “baik”, kita juga harus tahu bagaimana kesiapan publik menerima policy itu (polling misalnya), dan kita juga harus bisa mengemas dan menampilkan policy itu dengan “cantik”.

Kasarnya, lewat komponen ini kita ingin menang dan mengalahkan lawan. Menang di Pemilu, menang di forum DPR/D, menang di mata publik. Selama ini kemenangan kita di mata publik adalah dalam masalah moral credibility belum policy capability. Sekarang saatnya kita mulai serius memikirkan ini. Tulisan saya sebelumnya tentang motivasi vs konsekuensi berhubungan dengan komponen yang ketiga ini.

Pada akhirnya tentu saja semuanya akan kembali ke garis start. Setelah kita menang di mata publik, bagaimana publik itu masuk dan menjadi bagian kita lewat kaderisasi, dan selanjutnya.

ariapn Bahasa, Politics

Motivasi vs Konsekuensi dalam Debat Kebijakan Publik

March 18th, 2005

Ada beberapa hal penting mengenai perdebatan kebijakan publik. Saya soroti dari sudut good governance. Jadi maaf kalau secara normatif kurang sesuai. Input sangat ditunggu, karena ini tulisan cepat dan singkat, yang pastinya akan menambah kesalahan.

Kali ini saya bahas masalah motivasi vs konsekuensi.

Saya ambil contoh diskursus “privatisasi Indosat”. Kalau secara umum kita tidak setuju aset negara dijual, kita bisa berargumen, “itu kan bagian dari KKN dengan Singapura”. Jadi yang kita permasalahkan adalah motivasinya. Kalau memang ada bukti KKN yang kuat silakan dibawa ke pengadilan dan dipublikasikan ke media masa.

Tanpa bukti yang jelas, lebih baik kita berbicara mengenai konsekuensi dari kebijakan tadi. Kalau tujuan penjualan adalah agar kinerja Indosat membaik, apa argumentasi kita? Kalau tujuannya supaya harga telkom menurun, kenapa hal itu tidak bisa terjadi dan selanjutnya.

Contoh lain, misalnya “pelebaran jalan Sudirman-Thamrin di Jakarta”. Kita bisa saja mempertanyakan motivasinya, “itu hanya melayani orang kaya yang pakai mobil untuk kerja.” Di lain pihak kita bisa melihat konsekuensinya, “kalau jalan lebar dan lancar, pasti lama-lama semakin banyak yang tertarik naik mobil, akhirnya jalanan penuh dan macet lagi.”

Banyak contoh lain yang cukup memperlihatkan, bahwa dalam hal kebijakan publik, mempertimbangkan konsekuensi lebih penting daripada motivasi. Pilihan ke SBY, merupakan pilihan konsekuensi. Konsekuensi dari tidak menangnya SBY adalah kelanjutan pemerintahan Mega.

Memperdebatkan motivasi saja tanpa melihat konsekuensi, menurut saya adalah tidak sehat. Motivasi biasanya tidak tampak dhohir dan karenanya susah dijadikan pijakan. Kalau boleh saya ambil contoh kisah Usama bin Zaid yang membunuh orang setelah dia mengucapkan “laa ilaaha illallaah”. Usama bin Zaid mempertanyakan motivasi pengucapan kalimat tadi. Tetapi Rasulullah menekankan konsekuensinya, yaitu dia tidak boleh dibunuh.

Yang kedua, hal ini juga kurang mendidik kita sendiri maupun masyarakat umum. Usulan dari “lawan” langsung kita tolak tanpa dipelajari lebih lanjut. Mungkin saja motivasinya memang mencurigakan, tapi bagaimana kalau konsekuensinya ternyata menguntungkan kita. Kita harus terbiasa melihat ke depan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, apa konsekuensi dari suatu kebijakan. Banyak kebijakan yang ternyata menimbulkan konsekuensi yang tak terduga. Penambahan jam sekolah tidak otomatis membuat anak semakin cerdas. Kenaikan gaji PNS tidak selalu membuat mereka lebih makmur dalam arti real. Kenaikan upah minimum ternyata malah menambah pengangguran dan sebagainya.

Adanya polemik tentang konsekuensi suatu kebijakan juga akan mendidik masyarakat bahwa pilihan mereka punya makna dan akibat. Selanjutnya masyarakat akan terbiasa menuntut terciptanya hasil/konsekuensi tadi. Apa gunanya bagi masyarakat kebijakan yang niatnya baik tapi tidak berhasil memperbaiki mereka. Dan akhirnya, ini menuntut kita untuk terus meningkatkan kemampuan kita dalam memilih dan menjalankan suatu kebijakan.

Dua ciri utama Publik Argumen adalah:

  • Mewakili orang banyak: paling tidak mewakili konstituen kita. Tapi lebih dari itu, kita harus selalu menyampaikan argumen kita dalam bahasa dimana orang banyak bisa memahami dan dalam forum dimana orang banyak bisa ikut serta.
  • Mempunyai efek ke orang banyak: keputusan dan pilihan yang kita buat akan berpengaruh ke kepentingan orang banyak, tidak hanya ke kita sebagai partai saja.

Dalam hal ini saya pikir masalah konsekuensi lebih mudah dipahami dan dirasakan efeknya oleh masyarakat umum, daripada masalah motivasi.

Sekali lagi, saya tidak membahas bagaimana dan faktor apa saya yang harus diperhitungkan ketika kita mengambil suatu keputusan (internally), tapi bagaimana mengkomunikasikan keputusan tadi dan mendebat alternatif yang diajukan orang lain dalam forum umum.

ariapn Bahasa, Politics

My Way Out

March 1st, 2005

Download Traditional Arabic Font

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

At-Talaq 3:

Wa yarzuqhu min haythu la yahtasibu wa man yatawakkal ‘ala Allahi fa huwa hasbuhu inna Allaha balighu amrihi qad ja’ala Allahu li kulli shayin qadran

And He provides for him from where he does not reckon. And whoever puts trust in Allah, so Allah is sufficient for him. Surely Allah will accomplish His purpose. And Allah has set a measure for all things

The following is an excerpt of commentary on this ayah, from Tafsir Ibn Kathir:

Whoever has Taqwa of Allah in what He has commanded and avoids what He has forbidden, then Allah will make a way out for him from every difficulty and will provide for him from resources he never anticipated or thought about… Allah will execute His decisions and judgement that He made for him, in whatever way He wills and chooses

ariapn Personal