Archive

Archive for the ‘Bahasa’ Category

Menganalisa Komitmen dengan Game Theory

June 5th, 2005

Collecting my old writings – June 2003.

Bulan Ramadhan, tahun 92 H, pasukan Muslim mendarat di Gunung Tariq, dan disambut oleh pasukan Gothic Spanyol. Setelah tiga hari berperang, masih berpuasa Ramadhan, posisi pasukan Muslim mulai melemah. Malam harinya, panglima perang Tariq bin Ziyad memberi perintah untuk membakar armada kapalnya. [Ada perbedaan pendapat di kalangan sejarawan Muslim tentang peristiwa ini. Al Mubarakfuri misalnya, berpendapat peristiwa pembakaran kapal ini benar terjadi.]

Dengan latar belakang kapal di tepi lautan terbakar, beliau membakar semangat pasukannya dengan kata-katanya yang terkenal, “Di depanmu musuh menunggu, di belakangmu laut membentang. Tidak akan ada lagi yang menolongmu, kecuali kepahlawanan darimu dan bantuan dari Allah”. [Mann, J.H. A History of Gibraltar and Its Sieges. London: Provost, 1870.] Tariq tahu apa yang dia lakukan ini tidak saja akan dilihat oleh pasukannya, tetapi juga oleh pasukan lawan. Dan yang lebih penting lagi, efeknyapun akan dirasakan dan diperhitungkan oleh kedua pasukan tersebut.

Dalam ilmu Game Theory, apa yang dilakukan oleh Tariq adalah salah satu upaya untuk meningkatkan komitmen pasukannya dalam pertempuran. Tariq mengatakan kita tidak punya alternatif lain selain bertempur mati-matian. Mundur tidak mungkin, laut ada di belakang. Mengharapkan bantuan juga tidak akan datang, karena mereka berada jauh dari pusat kekuatan muslim.

Game Theory menganalisa interaksi sosial manusia menggunakan model permainan. Model ini memakai analisa matematika untuk membantu memahami pilihan strategi yang harus diambil oleh setiap pemain. Sebagaimana suatu permainan, setiap pemain ingin menang, karena itu dia harus mengambil keputusan yang terbaik, yang akan membawa kemenangan baginya. Walaupun teorinya sudah diformulasikan sejak lama, tapi baru dalam dekade terakhir ini model ini banyak mendapatkan perhatian. Hal ini sejalan dengan keberhasilan Game Theory, terutama di dunia bisnis dan politik, sebagai alat analisa mengapa suatu keputusan diambil, dan bagaimana suatu strategi dijalankan.

Kita akan memanfaatkan ilmu ini untuk menganalisa bagaimana meningkatkan kualitas komitmen kita. Salah satu caranya, seperti yang dilakukan Tariq ke pasukannya, adalah menghilangkan pilihan untuk mundur dari komitmen tersebut. Kalau kita tidak punya pilihan lain, komitmen kita hanyalah ke pilihan satu-satunya yang tertinggal. Strategi Tariq ini sejalan dengan Sun Tsu dalam Seni Berperangnya, “Kalau musuh sudah terkepung, beri lubang bagi mereka untuk melarikan diri”. Kalau tidak ada jalan lain, mereka akan bertempur mati-matian.

Kalau komitmen kita adalah di jalan dakwah, kita harus menghilangkan pintu-pintu menuju jalan maksiat dan jalan-jalan lain yang akan membuat kita bimbang akan komitmen kita. Hilangnya alternatif ini juga harus dilihat oleh lawan kita. Kalau lawan tahu kita masih punya alternatif untuk mundur, strategi mereka adalah untuk sekedar mendesak kita agar kita mundur, tanpa mereka perlu berkorban banyak. Tetapi kalau mereka melihat alternatif kita hanyalah berazam seratus persen, mereka akan ragu untuk mengimbangi hal ini. Karena, kalau kedua belah pihak bertempur mati-matian maka korban yang jatuh akan besar. Itulah yang terjadi pada pasukan Gothic yang dipimpin Roderick, mereka menjadi ragu apakah mereka siap mati. Mereka punya alternatif lain yang menarik, yaitu menyerah, karena bagi mereka kehidupan lebih bernilai daripada kematian.

Kontrak: Strategi lain untuk meningkatkan komitmen kita adalah mengikat kontrak. Kontrak mempunyai nilai hukum dengan segala konsekuensinya. Kontrak biasanya disetujui untuk jangka waktu tertentu. Ini berarti harus menunjukkan komitmen kita untuk memenuhi kontrak kita tidak hanya sekali, dua kali, tapi secara terus menerus, dalam jangka waktu panjang.

Kontrak ini dipakai oleh IBM di tahun 1980an untuk meraih keuntungan besar dari bisnis komputernya. Bisnis komputer pada waktu itu masih dimonopoli oleh IBM, harganya tidak terjangkau untuk perorangan. Harga yang mahal ini disebabkan oleh biaya R&D yang sangat tinggi. Strategi IBM adalah menganjurkan calon pembeli untuk menyewa tidak membeli komputer tersebut. Dengan sistem sewa tersebut, IBM menjamin bahwa komputer yang dipakai tidak akan ketinggalan jaman. Jadi, IBM meminta komitmen konsumer untuk terikat dengan komputernya, dan berhasil membiayai biaya pembuatan awal komputer yang agak tinggi tersebut. Kalau konsumer membeli satu komputer, kemudian IBM mengeluarkan versi baru dalam jangka waktu dekat, dengan harga yang cukup tinggi, konsumer akan enggan untuk membeli yang baru.

Bagi kita, tidak saja kontrak ini mempunyai nilai hukum dan komersial, tapi juga kewajiban kita untuk memenuhi janji.

Reputasi: Reputasi sangat penting dalam dunia bisnis dan politik. Bisnis yang sudah terkenal namanya, akan berkomitmen untuk menjaga mutu barang atau layanannya, tidak saja untuk menarik pelanggan, tetapi juga karena kekhawatiran kalau-kalau reputasinya jatuh. Partai politik kecil, pada waktu Pemilu, mudah saja berjanji untuk memberantas KKN, karena disamping kemungkinan menang kecil, juga biasanya tidak ada reputasi yang harus dijaga. Tetapi, kalaupun partainya kecil, tetapi reputasinya sudah bagus, keinginan untuk menjaga reputasi akan kuat. Kalau reputasi sudah hancur, susah untuk membangunnya kembali, dan meraih kepercayaan rakyat.

Tentu saja menjaga reputasi kita adalah tujuan antara, tujuan akhirnya adalah menjaga reputasi dan menegakkan nama Allah. Khalifah Umar bin Khattab mengganti Khalid bin Walid sebagai penglima, karena reputasinya lebih besar daripada reputasi Islam. Ketika Khalid bertemu Umar dan bertanya tentang penarikannya, Umar menjawab, “Kemenanganmu telah menciptakan kesan yang salah bahwa kemana saja kamu berperang, pasukanmu akan menang. Dengan memanggilmu pulang, saya telah menunjukkan bahwa kemana saja pasukan Allah pergi, mereka akan menang.”

Kerjasama: Keutamaan amal jama’i Insya Allah sudah sama-sama kita ketahui. Dengan bersama-sama, kita dapat saling memberi semangat, dan membantu, kalau ada teman kita yang mulai lemah komitmennya. Contoh mudahnya, kalau sedang ada kegiatan bersama, misalnya mabit, bangun untuk sholat malam jauh lebih mudah. Dan semakin besar jumlah yang mengerjakannya, semakin besar dorongan bagi kita untuk mengikutinya.

Kerjasama tidak hanya mempunyai pengaruh ke dalam diri kita, tetapi juga ke luar, ke musuh kita. Kalau jumlah kita besar, dan semua menunjukkan komitmennya akan semakin gentar lah lawan. Strategi ini dipakai oleh Rasulullah, dalam penaklukan Makkah dan beberapa peperangan setelah itu. Dengan kekuatan yang besar, pasukan Islam membuat gentar pasukan lawan, sehingga kemenangan diraih tanpa pertumpahan darah.

ariapn Bahasa, Games

Persiapan yang Menggentarkan

June 5th, 2005

Collecting my old writings – September 2004.

Download Traditional Arabic Font

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dirugikan (Al Anfal: 60).

Kehidupan manusia, baik dalam skala makro maupun mikro, merupakan perang, pergulatan antara yang haq dan yang bathil. Syaithan, sesuai dengan deklarasinya sebagai musuh manusia di hadapan Allah, punya ambisi yang besar dalam perang ini. Tidak hanya untuk mengalahkan manusia, tetapi juga merekrut manusia-manusia kalah tadi untuk berdiri di belakangnya, dan bergabung dalam pasukannya sebagai peserta aktif dalam perang ini.

Untuk menghadapi perang ini, Allah memerintahkan pasukanNya untuk melakukan persiapan, mengumpulkan kekuatan. Persiapan ini, tidak saja nantinya akan digunakan dalam perang yang sebenarnya, tetapi proses persiapan itu sendiri mempunyai efek psikologis yang kuat. Baik kepada diri kita, sebagai Hizbullah, sbahwa kita sudah bersiap, bahwa kita melakukan persiapan ini dalam rangka ketaatan kita kepada Allah, bahwa persiapan ini adalah bagian dari tawakkal kita kepada Allah. Dan Allah akan membalas ketaatan dan ketawakkalan kita itu dengan pertolonganNya, pertolongan kekuatan yang tidak akan terkalahkan.

Persiapan ini juga akan menimbulkan efek gentarnya musuh-musuh kita. Dan kemenanganpun bisa dicapai dengan lebih mudah, dan bahkan kekuatan yang menggentarkan itu menjadi alat perekrut pasukan musuh untuk berbaris bersama kita. Kita lihat saja bagaimana Rasulullah saw menyiapkan pasukannya menjelang Futuh Makkah. Persiapan yang menggentarkan kaum kafir Quraisy itu mengantarkan Makkah tanpa pertumpahan darah, dan memperkuat pasukan Rasulullah dengan tentara-tentara Muslim baru.

Dalam sejarah percaturan dunia, senjata nuklir menjadi “deterrent force”, karena sedemikian dahsyat kekuatannya. Bayangan fatal Hiroshima dan Nagasaki menggentarkan pihak-pihak yang menjadi sasaran senjata nuklir itu. Pihak yang lemah dan gentar itu akhirnya mengikuti ungkapan “if you can’t beat them, join them”, dan ikut berbaris bersama penguasa senjata tersebut.

Perang yang kita hadapi mempunyai berbagai macam bentuk dan tingkatan. Selama kita melawan pasukan bathil dan merekrut manusia untuk berdiri di bawah bendera Allah, maka itulah peperangan yang harus kita lakukan. Persiapan menghadapi perang pun berbeda-beda. Tidak melulu kekuatan fisik yang harus kita siapkan, kekuatan ruhiyah dan kekuatan strategi pun harus dipersiapkan. Banyaknya perang yang dimenangkan oleh Hizbullah di bulan Ramadhan menunjukkan bahwa persiapan ruhiyah mereka yang sempurna saat berpuasa menjadi sebab datangnya pertolongan Allah.

Allah mengindikasikan bahwa strategi dan perencanaan adalah salah satu bentuk persiapan yang harus kita lakukan. “Mereka berencana, dan Allah berencana. Dan Allah adalah sebaik-baik Perencana.” Kita bisa lihat juga bagaimana Rasulullah menyusun rencana dan strategi sebelum berhijrah. Dan musuhpun membuat rencana untuk menangkap Rasulullah saw. Kita harus yakin pertolongan Allah akan datang menghadapi setiap rencana musuh-musuh kita, tetapi hal itu tidak boleh menghalangi persiapan kita.

Strategi tanpa ketaatan tidak akan berhasil, seperti ditunjukkan Allah pada perang Uhud. Strategi yang sempurna tidak ada artinya tanpa pelaksana dan pelaksanaan yang baik. Ustadz Hasan Al Banna mengatakan, ada dua hal yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan: struktur dan ketaatan. Struktur mendefinisikan tujuan dan memberikan wadah bagi strategi yang akan dijalankan. Ketaatan setiap pelaksana pada struktur menjamin bahwa persiapan dan perencanaan yang ada dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Pemilu adalah salah satu peperangan itu. Kita ingin menang bukan semata karena kita ingin berkuasa, dan menjadikan kekuasaan itu tujuan akhir kita. Tetapi kita ingin menang, karena dengan kemenangan itulah lebih terbuka jalan bagi kita untuk menumpas kebathilan. Pemilu kali ini juga merupakan perang untuk mempertahankan eksistensi kita. Eksistensi Partai di era reformasi ini diperlukan sebagai wadah dan alat yang paling efektif untuk melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar kita.

Pemilu memerlukan persiapan sesuai dengan jenis peperangannya. Saudara-saudara kita di Indonesia sudah seperti kain yang tadinya basah yang sudah hampir kering karena terlalu lama dan sering diperas. Apa saja yang ada pada diri mereka habis terperas untuk mempersiapkan perang ini. Kesempatan bagi kita untuk mencontoh mereka terbuka lebar. Pemilu sudah dekat, deklarasi Partai kita di Amerika sudah di ambang mata. Kita jadikan deklarasi ini sebagai puncak persiapan kita.

Majulah ke depan dalam mempersiapkannya. Kita tahu bahwa setiap prajurit yang bertempur di barisan paling depan berada di daerah yang paling berbahaya. Apalagi kalau mereka masuk untuk merebut daerah lawan yang siap menyambut kedatangan mereka. Tapi ketaatan barisan terdepan ini kepada struktur yang ada membuat mereka terus maju, walaupun mereka harus berkorban paling banyak. Barisan demi barisan yang taat ini akan melemahkan musuh, dan akhirnya mengantarkan kemenangan.

ariapn Bahasa, Games

Pahlawanku

June 5th, 2005

Collecting my old writings – September 2003.

“[I am not a hero], but I served in a company of heroes.”
Stephen Ambrose.

Disini mahal dan susah untuk bertemu ikhwah Indonesia. Harus ada acara khusus di tempat tertentu yang kadang jaraknya cukup jauh. Waktu nyetir setelah pulang dari satu pertemuan itu, saya lihat ummi dan anak-anak sedang tidur. Rumah masih 3-4 jam lagi, jalanan cukup sepi.

Setiap kali usai bertemu dengan ikhwah, saya merasa bahagia dan bersyukur, sekedar bersama sudah merupakan kenikmatan. Nikmatnya berjamaah. Saya jadi ingat pada mantan murobbi saya. Karena bagaimanapun Allah telah menjadikannya sebagai salah satu sebab saya bisa menikmati ukhuwah ini.

Saya jadi ingat salah satu nasehat yang pernah saya terima tentang adab terhadap murobbi kita. Salah satu adabnya adalah, terus mengingat-ingat kebaikan mereka. Siapa sangka, semakin lama kebaikan itu semakin susah dilupakan, bahkan terasa semakin besar, karena semakin terasa nikmat dari hasil perjuangan beliau dulu.

Kalau memakai definisi pahlawan yang sering dipakai Anis Matta, murobbi-murobbi kita itu adalah pahlawan-pahlawan. Dan saya merasakan nikmat yang luar biasa, pernah berada dan berjuang bersama mereka, walaupun bukan pada tingkatan kepahlawanan mereka.

Maka, syukurilah keberadaannya, sambunglah kembali tali silaturahim dengannya, doakanlah dia, bayangkanlah wajahnya dalam setiap doa, cintailah dia karena Allah.

And, we do not do this because we have to repay them back. No, but because it is our duty. Because it’s been an honor, a priviledge, a ni’mah to have and to serve in their companies.

ariapn Bahasa, Personal

Kesombongan Sosial

May 12th, 2005

Saya mendapatkan istilah “arrogance of virtuous certainty” ketika membaca gambaran tentang peranan administrasi GWB dalam beberapa kasus, terutama Iraq. Keyakinan terhadap kebenaran prinsip mereka membuat mereka arogan dan menganggap diri di atas hukum.

Saya melihat gejala ini tumbuh dalam lingkup berbagai organisasi yang saya terlibat. Ada dua fase dari gejala ini. Fase pertama adalah dimana individu percaya akan kebenaran prinsip yang dia miliki, yang dalam satu organisasi prinsip ini juga dipercayai oleh banyak individu lain. Ini menjadikan rasa percaya mereka akan kebenaran prinsip tersebut meningkat, dan menganggap organisasi merekalah yang terbaik di bidangnya.

Fase pertama ini dalam batas-batas tertentu cukup wajar, bahkan ada suatu keperluan untuknya. Tanpa “fanatisme” ini, organisasi tidak akan bertahan lama.

Fase kedua adalah ketika individu berbalik “meminjam” prinsip organisasi untuk mendapatkan pembenaran pribadi. Keyakinan akan kebenaran bersama menjadikan keputusan–yang mungkin dimotivasi oleh kepentingan pribadi–perlu dibingkai seakan merupakan suatu keputusan yang bermanfaat untuk semua. Seakan keputusan tersebut vital bagi kelangsungan organisasi, dan bawah peran mereka tak tergantikan.

Pada fase pertama yang harus kita sadari adalah organisasipun masih harus berhukum, dalam segala aspek hukum itu sendiri. Minimal ini akan mengurangi efek dari fase kedua, karena individu yang ingin bertameng kebenaran organisasi “terpaksa” harus pula berselimutkan hukum.

ariapn Bahasa, Personal

Mu’jizat cita-cita besar kita

May 12th, 2005

[originally written for a dear brother of mine]

Ketika Johannes Kepler berhasil menemukan bahwa pergerakan planet mengelilingi matahari adalah elipsis (Kepler’s first law of planetary motion), dia merasa kecewa. Penelitian yang dia lakukan selama lebih dari dua puluh tahun, tidak menghasilkan apa yang dia inginkan. Dia ingin membuktikan bahwa orbit planet adalah lingkaran. Karena lingkaran adalah lambang kesempurnaan dan Kepler ingin membuktikan kesempurnaan ciptaan Tuhan. Kepler menganggap elipsis adalah suatu cacat dari kesempurnaan itu.

Penemuan yang kedua tidaklah cukup mengobati kekecewaannya itu. Padahal hukum kedua ini cukup menakjubkan, bahwa luas bidang yang ditempuh oleh planet adalah sama untuk setiap jangka waktu yang sama. Dia menganggap ini kesimpulan lumrah kalau orbit adalah lingkaran dan kecepatan revolusi adalah konstan.

Tapi kepercayaannya akan kesempurnaan ciptaan Tuhan mendorong dia untuk terus bekerja. Dan sepuluh tahun kemudian Kepler menemukan hukum ketiga, bahwa jangka waktu yang diperlukan oleh sebuah planet untuk melakukan satu revolusi berkaitan dengan jarak rata-ratanya dari matahari. Dia merasa temuan inilah yang dia cari.

Di masa itu, paham heliosentris bahwa bumi mengelilingi matahari bukanlah paham yang populer. Bahkan penolakan terhadap prinsip bahwa matahari mengelilingi bumi bisa berakibat maut dan mendapat hukuman gereja. Teknologi untuk mengamati bintang dan mahkluk angkasa lain masihlah sangat terbatas.

Karena itu banyaklah yang meragukan penemuan Kepler ini, tapi kali ini dia tidak kecewa. Dia percaya nantinya temuan dia akan terbukti dan tidak merasa perlu untuk mendapat pengakuan sekarang juga. Ketika bukunya terbit, dia mengatakan, “Aku sudah menulis bukuku, dan mungkin setelah berabad baru dibaca orang. Tak apa, karena Tuhan sudah menunggu 6000 tahun untuk seorang manusia membaca dan membuktikan ayat (ciptaan) Nya.”

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah itu. Tentu saja harus kita ingat adalah bahwa Kepler bukan seorang Muslim, dan tentunya kita mempunyai aqidah keimanan kepada Allah yang berbeda dari dia. Dengan keyakinan yang dia punya dia merasa mempunyai suatu misi untuk membuktikan kesempurnaan ciptaan Tuhan.

Kita sekarang ini sebenarnya punya misi yang mirip, yaitu membuktikan kesempurnaan sistem hidup yang sudah ditetapkan Allah kepada kita. Kalau kita berhasil, kita kembali membuka mata manusia, akan kesempurnaan sistemNya. Dan kalau itu benar dan Insya Allah akan berhasil, itulah anugerah. Mungkin itulah “mu’jizat” Allah kepada kita, karena mungkin sekarang tidak terbayang oleh kita, bagaimana bisa menyelesaikan berbagai masalah yang begitu berat dan rumit.

Indonesia sekarang ini ibarat seorang kepala keluarga yang tidak hanya harus menghidupi keluarganya, tapi sekaligus juga membayar hutang-hutang keluarga. Indonesia sekarang ini ibarat pelari yang sudah ketinggalan jauh, sementara pelari di depan lari dengan kecepatan 20 km/jam, dan kita lari dengan kecepatan 10 km/jam. Kapan kita bisa mengejar ketertinggalan?

Masalah kita sangat banyak, kemampuan dan sumber daya kita sangat minim. Dalam skala kecil, itulah yang dialami Kepler. Dia harus melakukan penghitungan yang luar biasa rumit dengan alat bantu yang minim. Calculus baru ada 100 tahun kemudian setelah Newton dan Leibniz. Geometri analitik masih menunggu Descartes. Kesalahan sedikit saja pada hitungan Kepler akan berakibat cukup fatal, dan membuatnya harus mengulang dari awal.

Walaupun kita gagal di tengah jalan, teruslah belajar dan selalulah bekerja. Lihatlah berulang-ulang sistem ciptaan Allah ini, periksalah penglihatan dan ilmu yang kita miliki.

Al Mulk 3-4:
“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.

“Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”

Selama ini kita hanya melihat kesempurnaan sistem Allah di buku, hanya mendengar dalam nasehat. Kalau kita ingin melihatnya, dan membuktikannya ke semua manusia, tidak ada jalan lain kecuali terus belajar meningkatkan kemampuan kita dan selalu bekerja mengejar ketinggalan kita. Kepercayaan Kepler terhadap kesempurnaan ciptaan Tuhan mendorongnya untuk terus bekerja puluhan tahun pantang menyerah.

Dan kitapun harus memuji Kepler yang betul-betul memegang teguh misi kerjanya. Biar manusia tidak menghargai, bahkan tidak membaca hasil temuannya, dia tidak merasa kecewa. Kita mungkin tidak berhasil mencapai cita-cita besar kita ini dalam usia hidup kita. Tetapi kita berdoa dengan kerja-kerja kita, kita bisa melihat kedepan, melihat kesempurnaan, mengharap kemu’jizatan.

ariapn Bahasa, Personal

About this blog

May 5th, 2005

Keadilan means justice in English. I’m hoping to start by being just to the self (my own self, not myself). The quotation, “Don’t hasten the end result before completing the beginning, don’t begin without looking toward the end” is from a wonderful book by Sidi Ahmed Zarruq. The book, The Poor’s Man Book of Assistance was translated with added commentary by Shaykh Hamza Yusuf.

The following is about how I got the domain name itself, which maybe of some interest to Indonesians.

Saya membeli keadilan.net sekitar 6 tahun lalu untuk dipakai sebagai web site PIPKA. Sejalan dengan pergantian nama PK ke PKS, beberapa bulan lalu PIPKA memutuskan untuk berganti nama domain menjadi pk-sejahtera.us.

Saya memutuskan memakai domain ini karena kata keadilan dan makna adil yang terkandung di dalamnya merupakan nilai yang saya junjung tinggi dan berusaha memulainya. Paling tidak, mulai dari diri, seperti kutipan di atas.

All the writings in here are my own opinions. They do not reflect any one or any organization (ever) affiliated to me or to the domain.

ariapn Bahasa, Personal

Komponen Partai Politik Modern

March 18th, 2005

Untuk kelangsungan suatu partai politik, saya pikir ada tiga komponen utama (Tolong dibedakan kelangsungan politik kita dengan kelangsungan organisatoris.):

  • Ideologi: menggodok konsep siapa kita, mau kemana kita, bagaimana meyakinkan orang lain untuk ikut kita. Utamanya tentu saja menyangkut kaderisasi.
  • Policy: menggodok posisi kita di bidang-bidang umum. Rakyat ingin dan harus tahu apa posisi kita di bidang pendidikan, ekonomi, hukum, dll. Dan bagaimana kita berencana meraih posisi itu.
  • Politik: menggodok strategi “perang” kita. Ini mungkin yang disebut politik praktis, yang sering diberi label politik itu kotor dll. Komponen ini mencakup berbagai strategi pemilu: tahu siapa basis pemilih kita, bagaimana meluaskan basis itu (mungkin dengan mengambil basis pemilih partai lain), bagaimana menyiasati perbagai peraturan Pemilu.

Komponen politik ini juga mencakup perang di forum publik: bagaimana kita mempublikasikan posisi kita, melemahkan posisi lawan. Tidak hanya kita harus memilih policy yang “baik”, kita juga harus tahu bagaimana kesiapan publik menerima policy itu (polling misalnya), dan kita juga harus bisa mengemas dan menampilkan policy itu dengan “cantik”.

Kasarnya, lewat komponen ini kita ingin menang dan mengalahkan lawan. Menang di Pemilu, menang di forum DPR/D, menang di mata publik. Selama ini kemenangan kita di mata publik adalah dalam masalah moral credibility belum policy capability. Sekarang saatnya kita mulai serius memikirkan ini. Tulisan saya sebelumnya tentang motivasi vs konsekuensi berhubungan dengan komponen yang ketiga ini.

Pada akhirnya tentu saja semuanya akan kembali ke garis start. Setelah kita menang di mata publik, bagaimana publik itu masuk dan menjadi bagian kita lewat kaderisasi, dan selanjutnya.

ariapn Bahasa, Politics

Motivasi vs Konsekuensi dalam Debat Kebijakan Publik

March 18th, 2005

Ada beberapa hal penting mengenai perdebatan kebijakan publik. Saya soroti dari sudut good governance. Jadi maaf kalau secara normatif kurang sesuai. Input sangat ditunggu, karena ini tulisan cepat dan singkat, yang pastinya akan menambah kesalahan.

Kali ini saya bahas masalah motivasi vs konsekuensi.

Saya ambil contoh diskursus “privatisasi Indosat”. Kalau secara umum kita tidak setuju aset negara dijual, kita bisa berargumen, “itu kan bagian dari KKN dengan Singapura”. Jadi yang kita permasalahkan adalah motivasinya. Kalau memang ada bukti KKN yang kuat silakan dibawa ke pengadilan dan dipublikasikan ke media masa.

Tanpa bukti yang jelas, lebih baik kita berbicara mengenai konsekuensi dari kebijakan tadi. Kalau tujuan penjualan adalah agar kinerja Indosat membaik, apa argumentasi kita? Kalau tujuannya supaya harga telkom menurun, kenapa hal itu tidak bisa terjadi dan selanjutnya.

Contoh lain, misalnya “pelebaran jalan Sudirman-Thamrin di Jakarta”. Kita bisa saja mempertanyakan motivasinya, “itu hanya melayani orang kaya yang pakai mobil untuk kerja.” Di lain pihak kita bisa melihat konsekuensinya, “kalau jalan lebar dan lancar, pasti lama-lama semakin banyak yang tertarik naik mobil, akhirnya jalanan penuh dan macet lagi.”

Banyak contoh lain yang cukup memperlihatkan, bahwa dalam hal kebijakan publik, mempertimbangkan konsekuensi lebih penting daripada motivasi. Pilihan ke SBY, merupakan pilihan konsekuensi. Konsekuensi dari tidak menangnya SBY adalah kelanjutan pemerintahan Mega.

Memperdebatkan motivasi saja tanpa melihat konsekuensi, menurut saya adalah tidak sehat. Motivasi biasanya tidak tampak dhohir dan karenanya susah dijadikan pijakan. Kalau boleh saya ambil contoh kisah Usama bin Zaid yang membunuh orang setelah dia mengucapkan “laa ilaaha illallaah”. Usama bin Zaid mempertanyakan motivasi pengucapan kalimat tadi. Tetapi Rasulullah menekankan konsekuensinya, yaitu dia tidak boleh dibunuh.

Yang kedua, hal ini juga kurang mendidik kita sendiri maupun masyarakat umum. Usulan dari “lawan” langsung kita tolak tanpa dipelajari lebih lanjut. Mungkin saja motivasinya memang mencurigakan, tapi bagaimana kalau konsekuensinya ternyata menguntungkan kita. Kita harus terbiasa melihat ke depan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, apa konsekuensi dari suatu kebijakan. Banyak kebijakan yang ternyata menimbulkan konsekuensi yang tak terduga. Penambahan jam sekolah tidak otomatis membuat anak semakin cerdas. Kenaikan gaji PNS tidak selalu membuat mereka lebih makmur dalam arti real. Kenaikan upah minimum ternyata malah menambah pengangguran dan sebagainya.

Adanya polemik tentang konsekuensi suatu kebijakan juga akan mendidik masyarakat bahwa pilihan mereka punya makna dan akibat. Selanjutnya masyarakat akan terbiasa menuntut terciptanya hasil/konsekuensi tadi. Apa gunanya bagi masyarakat kebijakan yang niatnya baik tapi tidak berhasil memperbaiki mereka. Dan akhirnya, ini menuntut kita untuk terus meningkatkan kemampuan kita dalam memilih dan menjalankan suatu kebijakan.

Dua ciri utama Publik Argumen adalah:

  • Mewakili orang banyak: paling tidak mewakili konstituen kita. Tapi lebih dari itu, kita harus selalu menyampaikan argumen kita dalam bahasa dimana orang banyak bisa memahami dan dalam forum dimana orang banyak bisa ikut serta.
  • Mempunyai efek ke orang banyak: keputusan dan pilihan yang kita buat akan berpengaruh ke kepentingan orang banyak, tidak hanya ke kita sebagai partai saja.

Dalam hal ini saya pikir masalah konsekuensi lebih mudah dipahami dan dirasakan efeknya oleh masyarakat umum, daripada masalah motivasi.

Sekali lagi, saya tidak membahas bagaimana dan faktor apa saya yang harus diperhitungkan ketika kita mengambil suatu keputusan (internally), tapi bagaimana mengkomunikasikan keputusan tadi dan mendebat alternatif yang diajukan orang lain dalam forum umum.

ariapn Bahasa, Politics

Kenapa Kenangan

June 2nd, 2004

Masuk milis SMA mengingatkan saya ke banyak hal. Banyak kenangan.

Saya tidak akan mengatakan bahwa kenangan itu berguna karena kita bisa menarik pelajaran darinya. Pelajaran apa? Bagaimana menariknya? Kapan kepakainya? Setiap titik di kehidupan ini punya latar, warna dan koordinat yang berbeda. Kenangan dulu kadang malah merusak garis kita sekarang.

Ah, tapi mengenang juga memberikan diri kita ini identitas. Masak sih? Bukannya identitas setiap orang selalu berubah setiap saat di setiap titik. Banyak orang yang sekarang ada di koordinat yang berdekatan dengan kita, tapi punya kenangan masa lalu yang jauh dengan kita. Dan orang-orang yang kita kenang, bukannya sekarang identitas mereka sudah berjauhan dengan kita? Buktinya? Mereka harus kita kenang untuk hadir.

Saya ingin bisa mengenang harapan masa lalu. Tapi apa ada, berapa panjang? Semua harapan lalu itu pendek, selalu berubah. Itu yang harus diubah.

Saya ingin mengenang masa depan. Biar juga ingat masa depanku bukan melulu masa laluku.
Biar aku melihat titik yang menunggu di depan, dan belajar mencapainya.
Biar aku merasakan, mengharapkan, bergidik melihat calon-calon identitasku di masa depan.

Biar anak-anakku punya harapan yang dikenang, dan kenangan yang penuh harap.
Biar aku selalu berkenang ke hari penantian.

ariapn Bahasa, Personal