<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aria PN &#187; Bahasa</title>
	<atom:link href="http://www.hunafa.org/category/bahasa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hunafa.org</link>
	<description>Start by being just to the self. &#34;Don&#039;t hasten the end result before completing the beginning, don&#039;t begin without looking toward the end.&#34;</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Jan 2010 22:48:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Ekspresi Penghambaan</title>
		<link>http://www.hunafa.org/148/ekspresi-penghambaan</link>
		<comments>http://www.hunafa.org/148/ekspresi-penghambaan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 22:46:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariapn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hunafa.org/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Tiga sikap yang berbeda terhadap suatu kesulitan, yang semuanya merupakan ekspresi penghambaan dari tiga orang shalih: Shaykh Qasim an-Nanotwi tidak pernah mengabarkan kesulitan atau musibah yang sedang menimpanya. Baru setelah peristiwa itu lama berlalu, ia menyebutkan kejadian tersebut. Baginya apa yang datang dari Allah adalah yang terbaik dan ia harus sabar menerimanya. Sabar adalah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga sikap yang berbeda terhadap suatu kesulitan, yang semuanya merupakan ekspresi penghambaan dari tiga orang shalih:</p>
<ol>
<li>Shaykh Qasim an-Nanotwi tidak pernah mengabarkan kesulitan atau musibah yang sedang menimpanya. Baru setelah peristiwa itu lama berlalu, ia menyebutkan kejadian tersebut. Baginya apa yang datang dari Allah adalah yang terbaik dan ia harus sabar menerimanya. Sabar adalah satu expresi penghambaan.</li>
<li>Setiap kali Haji Imdaadullah mengalami kesulitan, walaupun kecil, ia akan mengeluh dan mengaduh. Ia sering ditanya kenapa tidak bersabar dan bukankah mengeluh berarti tidak rela terhadap takdir Allah. Ia menjawab bahwa ia tidak berani menampakkan kekuatan menghadapi ujian Allah. Ia memilih merendahkan dan menyerahkan diri. Dalam kesulitan ia menyeru kepada Allah, &#8220;Saya tidak pantas diuji, saya tidak punya kekuatan. Ampunilah aku tanpa mengujiku. Mengekspresikan ketidakmampuan dan ketergantungan adalah satu bentuk penghambaan.</li>
<li>Shaykh Rasheed Ahmad al-Gangohi tidak pernah mengeluh kalau jatuh sakit. Tetapi ia sangat hati-hati terhadap sakitnya, seringan apapun. Ia akan memanggil dokter, minum obat, bertanya makanan apa yang harus dimakan atau dihindari. Orang-orang sering bertanya apakah ini tidak bertentangan dengan tawakal, apalagi hanya sakit ringan. Ia menjawab bahwa badan kita adalah pemberian dari Allah. Kita bukan pemilik badan ini dan wajib hukumnya untuk memeliharanya. Menjaga amanah adalah satu ekspresi penghambaan.</li>
</ol>
<p>Dari buku <em>Virtues and Etiquettes of Visiting the Sick</em> oleh Mufti Rasheed Ahmad Fareedi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hunafa.org/148/ekspresi-penghambaan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Din</title>
		<link>http://www.hunafa.org/136/makna-din</link>
		<comments>http://www.hunafa.org/136/makna-din#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 19:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariapn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hunafa.org/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Kata &#8220;din&#8221; biasanya diterjemahkan sebagai agama. Dalam bahasa Arab, kata ini mempunyai beberapa makna yang saling berkaitan: Berutang: pihak yang berutang berada di posisi yang lemah dan harus mengikuti syarat dan ketentuan utangnya. Berserah diri: semakin besar utang seseorang, semakin besar ketergantungannya. Bahkan sampai harus menghambakan diri. Kekuasaan hukum: Peraturan yang harus ia  taati tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata &#8220;din&#8221; biasanya diterjemahkan sebagai agama. Dalam bahasa Arab, kata ini mempunyai beberapa makna yang saling berkaitan:</p>
<ol>
<li>Berutang: pihak yang berutang berada di posisi yang lemah dan harus mengikuti syarat dan ketentuan utangnya.</li>
<li>Berserah diri: semakin besar utang seseorang, semakin besar ketergantungannya. Bahkan sampai harus menghambakan diri.</li>
<li>Kekuasaan hukum: Peraturan yang harus ia  taati tidak lagi terbatas pada utangnya, tapi bagi seluruh kehidupannya.</li>
<li>Kecenderungan yang fitrah/natural: ketentuan itu bisa diterima dengan tulus, bahkan ia mendapatkan keadilan dari hukum tersebut.</li>
</ol>
<p>Dari membaca<em>: <a href="http://www.amazon.com/Islam-Secularism-Muhammad-Naquib-al-Attas/dp/9839962868">‘Islam and Secularism’</a> -</em><em> </em><a href="http://www.islamicbookstore.com/b2694.html"><em>Muhammad Naquib Al-Attas</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hunafa.org/136/makna-din/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Niat</title>
		<link>http://www.hunafa.org/131/dua-niat</link>
		<comments>http://www.hunafa.org/131/dua-niat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 17:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariapn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hunafa.org/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Dari hadits Arbain no. 1. (1) Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya. Niat ini adalah niatan untuk amalnya dan membedakan satu amal dengan amal yang lain. (a) Niat yang membedakan satu ibadah dengan ibadah yang lain. Contoh: dua orang sholat dua raka&#8217;at. Satu orang berniat sholat subuh dan yang lain berniat untuk sholat sunat sebelum subuh. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari hadits Arbain no. 1.</p>
<p>(1) Sesungguhnya setiap  perbuatan<sup> </sup>tergantung niatnya.</p>
<p>Niat ini adalah niatan untuk amalnya dan membedakan satu amal dengan amal yang lain.</p>
<p style="padding-left: 30px;">(a) Niat yang membedakan satu ibadah dengan ibadah yang lain. Contoh: dua orang sholat dua raka&#8217;at. Satu orang berniat sholat subuh dan yang lain berniat untuk sholat sunat sebelum subuh. Sholatnya persis sama, yang beda hanya niatnya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">(b) Niat yang membedakan ibadah dengan kebiasaan. Contoh: dua orang mandi.  Satu orang mandi wajib karena junub dan yang lain mandi pagi sebagaimana yang ia lakukan setiap pagi.</p>
<p>(2) Untuk setiap orang apa yang dia niatkan.</p>
<p>Niat ini adalah niatan untuk hasilnya. Dua orang membaca Qur&#8217;an, satu orang berniat mendapat ridha Allah, yang lain berniat untuk pamer. Dua orang belajar Islam, satu orang berniat untuk mendakwahkan apa yang dia dapat, yang satu lagi ingin menjadi terkenal dan mencari posisi.</p>
<p>[<em>Based on Shaykh Al-‘Uthameen’s explanation of the first Hadeeth of the ‘Forty Hadeeth’ of  Imam Nawawi</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hunafa.org/131/dua-niat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rendra</title>
		<link>http://www.hunafa.org/129/rendra</link>
		<comments>http://www.hunafa.org/129/rendra#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 22:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariapn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hunafa.org/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[MAKNA SEBUAH TITIPAN Oleh: WS Rendra Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa: sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Allah bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya, tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengiapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MAKNA SEBUAH TITIPAN </strong><br />
Oleh: WS Rendra<span> </span></p>
<p>Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,<br />
<span>bahwa:</span></p>
<p><span> </span>sesungguhnya ini hanya titipan,<br />
bahwa mobilku hanya titipan Allah<br />
<span>bahwa rumahku hanya titipan Nya,<br />
<span>bahwa hartaku hanya titipan Nya,<br />
<span>bahwa putraku hanya titipan Nya,</span></span></span></p>
<p>tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,<br />
<span>mengiapa Dia menitipkan padaku?<br />
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?<br />
<span>Dan kalau bukan milikku<br />
<span>apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?</span></span></span></p>
<p><span>Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?</p>
<p></span></p>
<p>Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu<br />
<span>diminta kembali oleh Nya?</span></p>
<p>Ketika diminta kembali,<br />
kusebut itu sebagai musibah,<br />
<span>kusebut itu sebagai ujian,<br />
<span>kusebut itu sebagai petaka,<br />
<span>kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan<br />
<span>bahwa itu adalah derita.</span></span></span></span></p>
<p>Ketika aku berdoa,<br />
<span>kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,<br />
<span>aku ingin lebih banyak harta,<br />
<span>ingin lebih banyak mobil,<br />
<span>lebih banyak popularitas,<br />
<span>dan kutolak sakit,<br />
<span>kutolak kemiskinan,<br />
<span>seolah semua &#8220;derita&#8221; adalah hukuman bagiku.</span></span></span></span></span></span></span></p>
<p>Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti<br />
<span>matematika:<br />
aku rajin beribadah,<br />
<span>maka selayaknya derita menjauh dariku,<br />
<span>dan nikmat dunia kerap menghampiriku.<br />
<span>Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,<br />
<span>dan bukan kekasih.<br />
<span>Kuminta Dia membalas &#8220;perlakuan baikku&#8221;,<br />
<span>dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,</span></span></span></span></span></span></span></p>
<p>Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,<br />
<span>hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah&#8230;</span></p>
<p>&#8220;ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hunafa.org/129/rendra/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Economics of Political Ignorance</title>
		<link>http://www.hunafa.org/94/economics-of-political-ignorance</link>
		<comments>http://www.hunafa.org/94/economics-of-political-ignorance#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 20:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariapn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Economics]]></category>
		<category><![CDATA[Politics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hunafa.org/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Ketidakpedulian terhadap politik bukan saja jamak, tapi juga rasional secara ekonomi. Sebab utamanya adalah usaha yang diperlukan untuk mendapatkan informasi politik tidak sebanding dengan imbalannya (Anthony Downs: An Economic Theory of Democracy). Apa arti satu suara dalam pemilihan dengan seratus juta suara. Kemungkinan satu suara tersebut untuk mempengaruhi hasil pemilihan sangatlah kecil. Berbagai penelitian menyimpulkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketidakpedulian terhadap politik bukan saja jamak, tapi juga rasional secara ekonomi. Sebab utamanya adalah usaha yang diperlukan untuk mendapatkan informasi politik tidak sebanding dengan imbalannya (Anthony Downs: An Economic Theory of Democracy). Apa arti satu suara dalam pemilihan dengan seratus juta suara. Kemungkinan satu suara tersebut untuk mempengaruhi hasil pemilihan sangatlah kecil.</p>
<p>Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa pemilih menggunakan hak suaranya tanpa harapan yang rasional untuk mengubah hasil. Yang dia dapatkan adalah imbalan emosional. Mungkin kebanggaan karena dengan memilih dia menjalankan tugasnya sebagai warga negara. Atau perasaan bahagia karena sudah berusaha membantu rakayat miskin dengan program yang dipilihnya. Apakah program tersebut terlaksana atau tidak sangat kecil hubungannya dengan suara pemilih tersebut. Dan resiko (baik atau buruk) yang ditanggung oleh si pemilih atas pilihannya biasanya sangat kecil.</p>
<p>Mencari informasi politik itu mahal dan perlu usaha besar. Karena itu pemilih cenderung tidak melakukannya. Ini adalah apa yang disebut oleh Gordon Tullock (Public Choice Theory) sebagai &#8220;rational ignorance.&#8221; Topik ini dibahas panjang lebar oleh Bryan Caplan di buku baru tahun 2007, The Myth of Rational Voter. Pemilih sebenarnya tidak selalu rasional dalam menyalurkan suaranya. Mereka tidak mempunyai pemahaman yang benar terhadap berbagai topik (terutama ekonomi) yang sering diusung oleh kandidat.</p>
<p>Usaha untuk menambah pemahaman tentang kandidat memerlukan waktu dan juga pemikiran, bahkan terkadang biaya. Sementara keputusan yang berdasarkan emosi bisa dibilang gratis. Ini salah satu sebab hasil Pemilu tidak selalu mewakili kepentingan rasional pemilih. Sebab lain adalah karena sistem suara terbanyak tidak selalu bisa mewakili kepentingan sosial yang merupakan agregasi dari berbagai kepentingan individu (Kenneth Arrow&#8217;s Impossilibty Theorem).</p>
<p>Non voters think it&#8217;s not worth their while to physically go through the process of voting because their votes won&#8217;t make any difference, statistically speaking. Some of them don&#8217;t vote because they want to make informed decisions and the cost to get and process that information is more than the expected benefit.</p>
<p>On the other hand, most people who vote are politically ignorant. But this is done rationally. They choose to be ignorant because to be politically informed takes effort. They still go to voting booth because they get rewarded by feeling good having done their civic duty, trying to save the environment, helping the poor or whatever. That feeling is a reward, but not a big reward. So they spend some effort, but not that much that they become well informed. If the reward is bigger they&#8217;ll probably be more informed.</p>
<p>Apakah ini berarti demokrasi gagal? Bukan gagal, hanya tidak sempurna. Seperti dikatakan Churchill, &#8220;Democracy is the worst form of government, except for all those other forms that have been tried from time to time.&#8221;</p>
<p>Karena manusia ini makhluk rasional, maka ketidakpedulian-nya-pun harus dirasionalisasi. Jadi pemilih tidak akan mengakui bahwa mereka tidak tahu banyak tentang kandidat, tapi cenderung mengaku sudah lebih tahu. Bahkan mereka merasa ketidakpedulian itu suatu kebaikan, misalnya dengan menganggap bahwa politik itu kotor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hunafa.org/94/economics-of-political-ignorance/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa masalahnya?</title>
		<link>http://www.hunafa.org/93/apa-masalahnya</link>
		<comments>http://www.hunafa.org/93/apa-masalahnya#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 20:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariapn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Economics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hunafa.org/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan menarik dari Dani Rodrik (Professor Harvard) tentang pengembangan ekonomi. Sumber masalah dalam pengembangan ekonomi bisa dikelompokkan dalam 3 macam: 1. Kurang sumber daya. Solusi cepatnya adalah dengan mencari bantuan dan pinjaman luar negeri. 2. Kurang insentif yang menghasilkan kompetisi. Solusinya adalah bebaskan pasar lewat deregulasi dan privatisasi. 3. Kinerja pemerintahan yang tidak optimal karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rodrik.typepad.com/dani_rodriks_weblog/2008/02/a-new-paradigm.html">Tulisan menarik</a> dari Dani Rodrik (Professor Harvard) tentang pengembangan ekonomi. Sumber masalah dalam pengembangan ekonomi bisa dikelompokkan dalam 3 macam:</p>
<ul>
<p>   1. Kurang sumber daya. Solusi cepatnya adalah dengan mencari bantuan dan pinjaman luar negeri.<br />
   2. Kurang insentif yang menghasilkan kompetisi. Solusinya adalah bebaskan pasar lewat deregulasi dan privatisasi.<br />
   3. Kinerja pemerintahan yang tidak optimal karena berbagai hal, misalnya korupsi atau sistem yang tidak mendukung.
</ul>
<p>Saya melihat Indonesia memiliki ketiga macam masalah tersebut dan saling berkaitan. SDA perlu dikelola lebih baik dengan perbaikan pasar dan instansi pemerintah yang terkait. Pendidikan adalah kunci perbaikan SDM, walaupun akan memakan waktu panjang. Perbaikan SDM ini nantinya akan menghasilkan pemerintahan yang lebih baik.</p>
<p>Rodrik juga menulis tentang pendekatan baru dalam melihat permasalahan ini. Sesungguhnya kita tidak tahu di mana permasalahannya, apalagi apa pemecahannya. Kuncinya adalah eksperimen kebijakan. Di sini memang dibutuhkan kemauan politik yang besar, karena kebijakan yang diambil akan berpengaruh terhadap banyak orang.</p>
<p>Pemerintah harus selalu siap membatalkan suatu kebijakan kalau itu suatu kesalahan atau memperbaikinya. Kita bisa ambil contoh kenaikan harga BBM karena dicabutnya subsidi pemerintah. Pembuat kebijakan harus melihat apakah tujuannya tercapai, yaitu mengurangi konsumsi BBM dan menekan defisit anggaran. Apakah redistribusi subsidi lewat bantuan langsung tunai berhasil membantu?</p>
<p>Pendekatan seperti ini memerlukan kedewasaan rakyat terhadap pokok permasalahan dan pembuat kebijakan untuk meyakinkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hunafa.org/93/apa-masalahnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lebaran Awal</title>
		<link>http://www.hunafa.org/122/lebaran-awal</link>
		<comments>http://www.hunafa.org/122/lebaran-awal#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2007 03:37:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariapn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hunafa.org/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen kuno. &#8220;Okay everybody, that&#8217;s it for today&#8221;, kata Maryam yang kemudian membaca doa penutup. Aku lihat Maryam masih sibuk bicara dengan beberapa pengurus MSA Sister Comittee, jadi tanpa menyapanya lagi, aku langsung pergi. Aku lihat jam tangan, sudah jam 10 malam. Ramadhan tinggal 12 hari lagi, tidak terasa. Untuk acara setelah Idul Fitri, MSA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen kuno.</p>
<p>&#8220;Okay everybody, that&#8217;s it for today&#8221;, kata Maryam yang kemudian membaca doa penutup. Aku lihat Maryam masih sibuk bicara dengan beberapa pengurus MSA Sister Comittee, jadi tanpa menyapanya lagi, aku langsung pergi. Aku lihat jam tangan, sudah jam 10 malam. Ramadhan tinggal 12 hari lagi, tidak terasa. Untuk acara setelah Idul Fitri, MSA Sister Comittee dapat tugas menyiapkan acara untuk anak-anak setelah sholat Ied. Jadi tadi selepas sholat tarawih semua pengurus komite rapat.</p>
<p>Aku masih jengkel saja rasanya, kalau teringat rapat tadi. Apalagi kalau ingat keputusan yang diambil Maryam. Jauh sebelum rapat, aku sudah menyiapkan berbagai bentuk perlombaan untuk anak-anak. Aku sudah coret-coret hadiah apa saja yang pasti menarik untuk anak-anak dan segala macam aturan lomba. Sebagian pengurus tidak setuju kalau anak-anak dilombakan, dan hanya yang menang yang dapat hadiah. Mereka maunya semua anak harus dapat hadiah, kan ini Ied, jadi semua anak menang.</p>
<p>Sebenarnya aku tidak keberatan kalau semua dapat hadiah, tapi lomba harus tetap jalan. Tanpa lomba, acaranya kurang menarik, dan anak-anak juga kurang bersemangat biasanya. Memang sih, anggaran akan membekak, karena selain beli hadiah untuk pemenang, MSA juga harus beli hadiah untuk anak-anak lain. Aku tadinya berharap, Maryam akan mendukungku, dan semua usahaku mempersiapkan lomba tidak hilang begitu saja. Maryam kan ketua komite, jadi keputusan akhir ada dia. Tapi ternyata dia tidak setuju dengan ideku, malah sedikit mengkritik, &#8220;Zahra, you should&#8217;ve talked to us first, before preparing anything on your own.&#8221; Akhirnya disepakati MSA akan melatih anak-anak mempersembahkan drama dan lagu, dan semua akan dapat hadiah.</p>
<p>Aku kenal Maryam sudah hampir tiga tahun, waktu kami masih tingkat satu. Kami sekelas di Biology 110. Waktu itu nama panggilannya masih Mary. Mary yang pertama kali mengajak aku kenalan, &#8220;you&#8217;re the first person I know who&#8217;s wearing a head scarf&#8221;. Sebelumnya dia tahu orang pakai jilbab hanya dari TV dan surat kabar. Kebetulan kami jadi partner di lab, jadi kami sering berdua. Mary banyak tanya soal Islam, dan sering pertanyaannya bikin aku gelagapan juga, karena sebelumnya tidak pernah terpikir olehku pertanyaan-pertanyaan itu. Akhirnya, aku bawa saja dia ke masjid, bertemu teman-teman di MSA.</p>
<p>Aku sendiri ikut banyak belajar dan aktif di MSA. Akhir tahun pertama, Mary memutuskan untuk masuk Islam. Tidak terkira rasa senangku waktu itu. Dan orang tua Mary juga sangat terbuka. Walaupun begitu banyak berita negatif tentang Islam di media massa, mereka membebaskan Mary menentukan pilihannya, dan percaya bahwa dia benar-benar serius. Sejak itu, Mary minta dipanggil Maryam, dan kami jadi semakin dekat. Tahun lalu, aku jadi ketua bagian sosial, dan dia ketua bagian dakwah. Kami sering merancang kegiatan bersama, biar &#8220;Da&#8217;wah is not too preachy&#8221;, kata Maryam. Jadi kami satukan antara kegiatan dakwah dan sosial. Biar orang mengenal Islam juga dari akhlaq orang Islam.</p>
<p>Tak terasa aku sudah sampai apartemenku. Aku masih teringat Maryam, dulu dia selalu memperhatikan usul-usulku. Tapi sekarang, sejak dia jadi ketua Sister Comittee, sering dia lebih memperhatikan usulan teman lain yang tidak jarang bertabrakan dengan ideku. Seperti rapat tadi. Sudahlah, batinku, nggak baik berprasangka buruk terus ke orang.</p>
<p>Paginya, selepas sahur dan sholat subuh, aku masih saja ingat rapat semalam. Puasa kok mikirin orang terus, keluhku. Cepat-cepat aku menyibukkan diri, mempersiapkan kelas-kelas hari ini. Ada beberapa bahan kuliah yang aku belum paham benar. Setelah aku baca bukunya, sekarang lumayan ngerti. Jadi nanti di kelas nggak bengong terus, nggak tahu dosen ngomong apa.</p>
<p>Jam tiga, kelas terakhirku adalah Prof. Roberts. Kelasnya susah, tapi Prof. Roberts sering memberi contoh yang membuat kelasnya lebih mudah dipahami. Hari ini dia berbicara soal kanker. Bagaimana kanker terbentuk dari sel-sel yang ada di tubuh kita. Aku kurang mengikuti apa yang dia sampaikan. &#8220;Harus baca buku nih nanti,&#8221; pikirku. Akhirnya, Prof. Roberts menutup kuliahnya, &#8220;Think of cancer as a bad cell. We have billions of cells in our body. But we may have cancer caused by a single bad cell. This one cell is bad because it cannot live with other cells, it cannot tolerate others.&#8221;</p>
<p>Aku langsung teringat hadits Nabi, &#8220;Orang mukmin bagaikan satu tubuh&#8221;. Masing-masih ibaratnya sel yang bersama-sama membentuk tubuh yang kuat. Jangan-jangan aku ini sel yang bisa jadi kanker yang merusak tubuh MSA. Aku bergidik mengingatnya. Selesai kelas, cepat-cepat aku pergi ke masjid untuk berbuka puasa. Aku tahu biasanya Maryam ada di masjid juga. Rasanya tidak sabar aku berjalan.</p>
<p>Begitu sampai di masjid, aku cari Maryam. Itu dia, baru selesai bicara dengan beberapa akhwat lain. Langsung aku peluk dia dari belakang. Maryam agak kaget. &#8220;What&#8217;s going on&#8221;, tanyanya terheran-heran. &#8220;Nothing&#8221;, aku hanya tersenyum-senyum saja. Maryam tertawa sebentar, tapi kemudian raut mukanya berubah agak serius, &#8220;I&#8217;m sorry for what I said last night.&#8221; Aku mengangguk, berbunga hatiku. Rasanya seperti sudah lebaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hunafa.org/122/lebaran-awal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsekuensi dari Keterikatan</title>
		<link>http://www.hunafa.org/89/konsekuensi-dari-keterikatan</link>
		<comments>http://www.hunafa.org/89/konsekuensi-dari-keterikatan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Dec 2006 19:08:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariapn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.keadilan.net/2006/12/06/konsekuensi-dari-keterikatan/</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya uang tidak pernah terlepas dari pikiran kita (saya). Ketika membayar tagihan apartemen, bayar kartu kredit, belanja semua berhubungan dengan uang. Belum lagi kalau merencanakan sesuatu, dari sekadar rencana akhir pekan anak-anak sampai masa depan mereka. Kalau uang adalah microcosm dari dunia ini, maka keterikatan kita pada dunia bisa dilihat sejauh mana uang membelenggu kita. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya uang tidak pernah terlepas dari pikiran kita (saya). Ketika membayar tagihan apartemen, bayar kartu kredit, belanja semua berhubungan dengan uang. Belum lagi kalau merencanakan sesuatu, dari sekadar rencana akhir pekan anak-anak sampai masa depan mereka.</p>
<p>Kalau uang adalah microcosm dari dunia ini, maka keterikatan kita pada dunia bisa dilihat sejauh mana uang membelenggu kita. Saya pribadi bersyukur masih bisa membayar zakat, dan merencanakan membayarnya setiap bulan sedikit mengurangi belenggu itu.</p>
<p>Hasil penelitian yang baru terbit di majalah Science, 17 Nopember menunjukkan bahwa belenggu ini cukup berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan kita. Vohs, Mead dan Goode di &#8220;<a href="http://www.sciencemag.org/cgi/content/abstract/314/5802/1154?etoc">The psychological consequences of money</a>&#8221; mengkondisikan sebagian peserta percobaan dengan berbagai kata-kata yang berhubungan dengan uang (misal: gaji tinggi) dan sebagian lain dengan kata-kata netral (misal: cuaca di luar dingin). Setelah ini kedua kelompok tersebut dan satu kelompok lagi yang tidak dikondisikan (sebagai kontrol) diminta melakukan berbagai tugas.</p>
<p>Salah satu tugas yang mereka kerjakan adalah menyelesaikan teka-teki, dimana kelompok yang sudah terkondisikan dengan uang memerlukan waktu hampir dua kali lipat dari waktu dua kelompok lain. Kelompok yang pertama tadi juga cenderung lebih enggan menolong orang lain dan memberi uang untuk amal lebih sedikit. Kesimpulan yang diambil penulis adalah kelompok yang terkondisikan dengan uang merasa cukup, lebih egois dan lebih suka bermain dan bekerja sendiri.</p>
<p>As with any other experimental research, take this result with a grain of salt. Tapi paling tidak ini mengingatkan kita pada ajaran salafus sholih untuk bersikap zuhud, dunia ada di tangan, bukan di hati kita. Dengan melepaskan hati dari dunia, mudah-mudahan kita menjadi lebih memperhatikan saudara kita yang banyak yang masih memerlukan. Kita menjadi lebih bersyukur dan kalau hasil percobaan ini benar, kita bisa mengerjakan hal-hal lain dengan sepenuh kemampuan dan hasil yang lebih baik Insya Allah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hunafa.org/89/konsekuensi-dari-keterikatan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proses Pembelajaran</title>
		<link>http://www.hunafa.org/86/proses-pembelajaran</link>
		<comments>http://www.hunafa.org/86/proses-pembelajaran#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 May 2006 19:38:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariapn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.keadilan.net/2006/05/16/proses-pembelajaran/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bertemu, berkumpul ataupun bergaul kita mengalami proses penularan ilmu, sadar maupun tidak sadar. Saya agak kesulitan mencari kata pengganti ilmu. Knowledge mungkin lebih tepat. Ilmu disini tidak selalu bersifat formal, tapi apa saja yang tadinya tidak kita ketahui, atau belum kita ketahui dengan benar/baik, atau belum kita endapkan. Bagi yang sudah bekerja, proses ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam bertemu, berkumpul ataupun bergaul kita mengalami proses penularan ilmu, sadar maupun tidak sadar. Saya agak kesulitan mencari kata pengganti ilmu. Knowledge mungkin lebih tepat. Ilmu disini tidak selalu bersifat formal, tapi apa saja yang tadinya tidak kita ketahui, atau belum kita ketahui dengan benar/baik, atau belum kita endapkan.</p>
<p>Bagi yang sudah bekerja, proses ini bisa dijumpai secara formal dalam bentuk satu tim yang bekerja untuk suatu proyek. Anggota tim yang baru harus belajar dari anggota yang lain atau harus melihat buku petunjuk atau manual teknis.</p>
<p>Secara informal, proses ini banyak kita alami. Tentu saja terjadi pada interaksi keluarga. Dalam konteks organisasi, hal ini juga terjadi dalam berbagai pertemuan, berbagai rapat organisasi dan kepanitiaan, dan sebagainya. Proses pembelajaran ini sudah banyak diteliti dan juga diterapkan dalam berbagai bentuk teknik managemen proyek di berbagai perusahaan.</p>
<p>Permasalahan yang sering dihadapi dalam penyebaran ilmu ini adalah banyak ilmu yang sulit untuk diajarkan dan dipelajari secara ekplisit. Sebagian peneliti (Polanyi, 1966; Nonaka 1994) membuat dua klasifikasi ekstrem, ilmu yang tersurat (explicit knowledge) dan yang tersirat (tacit knowledge). Tentu saja sebagian besar ilmu ada di antara keduanya.</p>
<p>Tacit knowledge sulit untuk diungkapkan baik dalam bentuk tulisan maupun ucapan. Misalnya, seorang montir mobil atau dokter yang berpengalaman ketika mendiagnosa obyek mereka. Mereka sendiri sering tidak tahu bagaimana proses yang mereka jalani untuk mengambil suatu kesimpulan tertentu, apalagi untuk menuangkan proses tersebut secara ekplisit.</p>
<p>Tacit knowledge perlu diubah menjadi explicit knowledge supaya bisa diajarkan. Karena itu, seringkali untuk mempelajari tacit knowledge ini dilakukan kerja praktek. Dengan melihat dan meniru bagaimana pembimbing kita melakukannya, ilmu tersebut ditransfer lengkap dengan konteksnya, yaitu lingkungan tempat kejadian dan kepribadian yang mempengaruhinya.</p>
<p>Ini berbeda dengan jenis ilmu yang tersurat. Pengajar bisa dengan mudah memberikan fakta yang diperlukan dan instruksi yang harus dikerjakan. Kalau pengajar yang berbeda memberikan petunjuk yang sama, maka instruksi ini bisa dikodifikasi/didokumentasi untuk selanjutnya bisa dipelajari tanpa pengajar.</p>
<p>Dalam berbagai kerja dakwah, apa yang ingin kita sampaikan sering berbentuk tacit. Hal ini disebabkan karena pesan yang ingin kita sampaikan (seharusnya) sudah terendapkan dalam diri kita. Ketika kita menyampaikan makna syahadah, ketika kita menceritakan kisah ukhuwah sahabat, semua  itu seharusnya sudah ada dalam diri kita.</p>
<p>Proses pengendapan ini adalah internalisasi dari apa yang kita dapat secara ekplisit lewat jasmani/indra kita menjadi bagian ruhani/bawah sadar kita. Termasuk yang explisit ini adalah apa yang kita baca, apa yang kita pelajari dari guru kita, apa yang kita dengar dari nasehat saudara kita. Semua explicit knowledge ini harus diubah menjadi tacit knowledge atau internalisasi.</p>
<p>Proses internalisasi ini tidak hanya mencakup seberapa banyak yang kita ingat waktu kita belajar. Tapi juga apa yang kita rasakan waktu belajar. Perasaan ini tergantung konteks kita belajar: kapan (dalam artian usia atau situasi yang ada, juga malam ataukah siang, sehabis makan atau sehabis sholat), di mana, siapa gurunya (gaya bicara, intonasi, emosi, dll), siapa murid yang lain (emosi dan hubungan kita ke mereka), apa yang sudah kita pelajari sebelumnya, bagaimana kondisi ruhiyah kita, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin semuanya dituliskan secara tersurat.</p>
<p>Karena itulah berbagai pertemuan &#8212; walaupun yang dibahas terkadang serba mirip &#8212; memiliki andil dalam proses internalisasi ini. Semuanya memilki format yang mirip tapi konteks yang selalu sedikit berbeda, sehingga apa yang kita dapatkan-pun selalu lain. Seharusnya pertemuan menjadi proses pembelajaran yang berjalan terus menerus dan timbal balik.</p>
<p>Tentunya kewajiban kita tidak berhenti di internalisasi saja. Kita belajar dan mengajar, mengendapkan dan menyampaikan. Kewajiban untuk menyampaikan berarti kita harus melakukan proses ekternalisasi, mengubah tacit knowledge tadi kembali menjadi explicit knowledge.</p>
<p>Kalau eksternalisasi dan internalisasi mempunyai konteks yang mirip, maka akan jauh lebih mudah untuk menyampaikan apa yang sudah mengendap tersebut.</p>
<p>Sejarah dakwah di Indonesia cukup menjadi bukti. Proses internalisasi terjadi melalui interaksi yang kuat dan berulang dalam berbagai konteks yang sangat mendukung pengendapan. Pengalaman menjadi faktor penting dalam proses ini. Konteks yang kita alami, kita ingat kemudian kita endapkan.</p>
<p>Konteks ini kemudian kita jabarkan dan kita sertakan waktu kita melakukan penyampaian. Tanpa pengalaman tadi, apa yang kita sampaikan kekurangan konteks yang diperlukan untuk proses internalisasi generasi berikutnya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hunafa.org/86/proses-pembelajaran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ultimatum Game: Keadilan dalam Kesejahteraan</title>
		<link>http://www.hunafa.org/76/ultimatum-game-keadilan-dalam-kesejahteraan</link>
		<comments>http://www.hunafa.org/76/ultimatum-game-keadilan-dalam-kesejahteraan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2005 20:02:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ariapn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Games]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.keadilan.net/blog/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Ingatlah ketika Umar menemui Rasulullah duduk di atas tikar, hanya berpakaian sehelai kain, dengan bekas-bekas tikar di badannya. Di sekeliling Rasulullah hanya ada sedikit gandum, dan daun penyamak kulit. Melihat itu Umar menangis dan ketika Rasulullah bertanya kenapa, Umar menjawab, Bagaimana aku tidak menangis, melihatmu ya Rasulullah, sementara Kisra Persia dan Kaisar Romawi dikelilingi oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ingatlah ketika Umar menemui Rasulullah duduk di atas tikar, hanya berpakaian sehelai kain, dengan bekas-bekas tikar di badannya. Di sekeliling Rasulullah hanya ada sedikit gandum, dan daun penyamak kulit. Melihat itu Umar menangis dan ketika Rasulullah bertanya kenapa, Umar menjawab,</p>
<blockquote><p>Bagaimana aku tidak menangis, melihatmu ya Rasulullah, sementara Kisra Persia dan Kaisar Romawi dikelilingi oleh buah-buahan dan sungai-sungai. Engkau adalah Nabi Allah dan pilihan Nya, tetapi hanya inikah kekayaanmu?</p></blockquote>
<p>Jawaban Rasulullah kepada Umar melengkapi kisah tadi dan memberikan kepada kita pelajaran yang luar biasa dalam. Tetapi di dalam tangisan dan kata-kata Umar itu sendiri terkandung pelajaran yang lama mengusik <em>game theorists</em>. Kita bisa melihat ini dalam <em>ultimatum game</em>.</p>
<p>Pilih dua orang untuk bermain, A dan B dan kesempatan untuk mendapatkan sejumlah uang, misal $10. A harus membagi uang $10 tersebut. A menawarkan kepada B apakah bersedia menerima $x, 0 &lt; x &lt; 10. Kalau B menerima ultimatum tersebut, A mendapat $(10-x) dan B $x. Kalau B menolak, keduanya tidak mendapat sepeserpun.</p>
<p>Permainan ini sudah dicoba di berbagai penjuru dunia dengan budaya yang beragam. Eksperimen dilakukan dengan berbagai komposisi A dan B, termasuk mereka yang belum pernah bertemu dan tidak akan bertemu setelah eksperimen ini. Bahkan dalam bentuk yang sedikit berbeda, tapi meneliti hal yang sama, pernah dicoba juga pada monyet. Hasilnya cukup mengejutkan, paling tidak bagi ahli ekonomi.</p>
<p>Sebagai manusia ekonomi yang berpikir rasional, seharusnya B menerima berapa saja tawaran A. Sekecil apapun x, x tetap lebih besar dari pada tidak mendapat apapun kalau B menolak tawaran A. Tetapi eksperimen menunjukkan tawaran rendah selalu ditolak. Yang menarik, ternyata A juga sudah mengantisipasi kemungkinan ini, dan jarang sekali ada tawaran yang terlalu rendah. Jumlah yang paling sering ditawarkan oleh A adalah $5.</p>
<p>Permainan ini menunjukkan adanya ketidakrelaan terhadap kesejahteraan yang didapatkan dengan &#8216;tidak adil&#8217;. Ketidakadilan di sini bukan berarti ada pelanggaran hukum atau penindasan terhadap pihak tertentu. Ketidakadilan di sini merujuk pada perbandingan kerja dan penghasilan yang sesuai. Dalam permainan ini, A tanpa usaha apapun, hanya karena keberuntungan, berhak membagi uang. B merasa hal tersebut tidak adil. Yang lebih mengejutkan, B bahkan rela mengorbankan bagiannya supaya A tidak menikmati buah ketidakadilan tersebut.</p>
<p>Ketika eksperimen ini diubah, misalnya dengan memberitahu B bahwa A dipilih karena prestasinya, maka hasilnyapun berubah. B menerima berapa saja tawaran A. B merasa sekarang A mempunyai hak untuk membagi uang tersebut. Bagi Umar, Rasulullah-lah yang diberikan hak oleh Allah terhadap semua kekayaan dunia. Kaisar Persia tidak mempunyai hak sedikitpun, dan Umar bersedia berjuang menghilangkan ketidakadilan tersebut. [Jawaban Rasulullah nantinya menunjukkan bahwa perjuangan haruslah dilakukan, tetapi tujuannya bukan sekedar itu.]  </p>
<p>Sebagai Muslim, seharusnyalah kita sadar apa hak saudara-saudara kita. Janganlah kita merasa mereka tidak berhak mendapatkan rejeki, karena kurangnya usaha mereka di mata kita. Mempertanyakan hak seseorang atas rejeki dan kenikmatan berarti mempertanyakan kekuasaan Allah sebagai pembagi rejeki dan kenikmatan tersebut.</p>
<p>Di sisi lain, sebagai sebuah organisasi, kita adalah kumpulan manusia yang tidak luput dari berbagai perasaan ketika melihat kesejahteraan sebagian saudara-saudara kita. Apalagi kalau keberhasilan itu dicapai di atas perjuangan dan kerja keras sebagian yang lain. Manusia pada fitrahnya merasa hanya berhak mendapatkan apa yang dia usahakan. Dan diapun sebenarnya merasa bersalah kalau apa yang dia dapatkan bukanlah yang dia usahakan. Di saat organisasi semakin sejahtera, semakin berhati-hatilah menjaga keadilan. Tolaklah kesejahteraan yang datang tanpa usaha anda. Atau lebih penting lagi, bekerja keraslah, sehingga ketika kesejahteraan datang, nikmatnya bisa terasa tanpa ada rasa ketidakadilan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hunafa.org/76/ultimatum-game-keadilan-dalam-kesejahteraan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
