Home > Bahasa, Games > Ultimatum Game: Keadilan dalam Kesejahteraan

Ultimatum Game: Keadilan dalam Kesejahteraan

Ingatlah ketika Umar menemui Rasulullah duduk di atas tikar, hanya berpakaian sehelai kain, dengan bekas-bekas tikar di badannya. Di sekeliling Rasulullah hanya ada sedikit gandum, dan daun penyamak kulit. Melihat itu Umar menangis dan ketika Rasulullah bertanya kenapa, Umar menjawab,

Bagaimana aku tidak menangis, melihatmu ya Rasulullah, sementara Kisra Persia dan Kaisar Romawi dikelilingi oleh buah-buahan dan sungai-sungai. Engkau adalah Nabi Allah dan pilihan Nya, tetapi hanya inikah kekayaanmu?

Jawaban Rasulullah kepada Umar melengkapi kisah tadi dan memberikan kepada kita pelajaran yang luar biasa dalam. Tetapi di dalam tangisan dan kata-kata Umar itu sendiri terkandung pelajaran yang lama mengusik game theorists. Kita bisa melihat ini dalam ultimatum game.

Pilih dua orang untuk bermain, A dan B dan kesempatan untuk mendapatkan sejumlah uang, misal $10. A harus membagi uang $10 tersebut. A menawarkan kepada B apakah bersedia menerima $x, 0 < x < 10. Kalau B menerima ultimatum tersebut, A mendapat $(10-x) dan B $x. Kalau B menolak, keduanya tidak mendapat sepeserpun.

Permainan ini sudah dicoba di berbagai penjuru dunia dengan budaya yang beragam. Eksperimen dilakukan dengan berbagai komposisi A dan B, termasuk mereka yang belum pernah bertemu dan tidak akan bertemu setelah eksperimen ini. Bahkan dalam bentuk yang sedikit berbeda, tapi meneliti hal yang sama, pernah dicoba juga pada monyet. Hasilnya cukup mengejutkan, paling tidak bagi ahli ekonomi.

Sebagai manusia ekonomi yang berpikir rasional, seharusnya B menerima berapa saja tawaran A. Sekecil apapun x, x tetap lebih besar dari pada tidak mendapat apapun kalau B menolak tawaran A. Tetapi eksperimen menunjukkan tawaran rendah selalu ditolak. Yang menarik, ternyata A juga sudah mengantisipasi kemungkinan ini, dan jarang sekali ada tawaran yang terlalu rendah. Jumlah yang paling sering ditawarkan oleh A adalah $5.

Permainan ini menunjukkan adanya ketidakrelaan terhadap kesejahteraan yang didapatkan dengan ‘tidak adil’. Ketidakadilan di sini bukan berarti ada pelanggaran hukum atau penindasan terhadap pihak tertentu. Ketidakadilan di sini merujuk pada perbandingan kerja dan penghasilan yang sesuai. Dalam permainan ini, A tanpa usaha apapun, hanya karena keberuntungan, berhak membagi uang. B merasa hal tersebut tidak adil. Yang lebih mengejutkan, B bahkan rela mengorbankan bagiannya supaya A tidak menikmati buah ketidakadilan tersebut.

Ketika eksperimen ini diubah, misalnya dengan memberitahu B bahwa A dipilih karena prestasinya, maka hasilnyapun berubah. B menerima berapa saja tawaran A. B merasa sekarang A mempunyai hak untuk membagi uang tersebut. Bagi Umar, Rasulullah-lah yang diberikan hak oleh Allah terhadap semua kekayaan dunia. Kaisar Persia tidak mempunyai hak sedikitpun, dan Umar bersedia berjuang menghilangkan ketidakadilan tersebut. [Jawaban Rasulullah nantinya menunjukkan bahwa perjuangan haruslah dilakukan, tetapi tujuannya bukan sekedar itu.]

Sebagai Muslim, seharusnyalah kita sadar apa hak saudara-saudara kita. Janganlah kita merasa mereka tidak berhak mendapatkan rejeki, karena kurangnya usaha mereka di mata kita. Mempertanyakan hak seseorang atas rejeki dan kenikmatan berarti mempertanyakan kekuasaan Allah sebagai pembagi rejeki dan kenikmatan tersebut.

Di sisi lain, sebagai sebuah organisasi, kita adalah kumpulan manusia yang tidak luput dari berbagai perasaan ketika melihat kesejahteraan sebagian saudara-saudara kita. Apalagi kalau keberhasilan itu dicapai di atas perjuangan dan kerja keras sebagian yang lain. Manusia pada fitrahnya merasa hanya berhak mendapatkan apa yang dia usahakan. Dan diapun sebenarnya merasa bersalah kalau apa yang dia dapatkan bukanlah yang dia usahakan. Di saat organisasi semakin sejahtera, semakin berhati-hatilah menjaga keadilan. Tolaklah kesejahteraan yang datang tanpa usaha anda. Atau lebih penting lagi, bekerja keraslah, sehingga ketika kesejahteraan datang, nikmatnya bisa terasa tanpa ada rasa ketidakadilan.

Categories: Bahasa, Games Tags:
  1. hanies
    April 10th, 2006 at 05:19 | #1

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Very good posting. Semoga keadilan dan kesejahteraan segera terwujud di seluruh tempat di dunia ini. Amiin yaa Robbal’aalamiin.

    Wassalam,
    hanies (Fukuoka, Jepang, April 10, 2006)

    NB: Gimana kabarnya Aria sekeluarga? Sudah berapa orang juniornya nih? Saya sekarang sedang S3 di Jepang, mulai April 2006 ini insyaAlloh.

  2. July 4th, 2006 at 02:06 | #2

    Tulisan yang bagus, senang bisa mengunjungi situs ini semoga sukses dan terus berkembang

  3. Irfan
    August 11th, 2006 at 12:56 | #3

    Assalamu’alaikum,

    barusan nemuin web blog kamu ini. I enjoyed reading your writings.

    Wassalamu’alaikum,
    Irfan

  1. No trackbacks yet.