Home > Personal > Western Intellectual Tradition (2. Liberalism)

Western Intellectual Tradition (2. Liberalism)

Sorry for the long delay. I must also warn/apologize that this is not exactly the continuation of the other post, not in style or even the language. I wrote this piece for another blog. It covers the period of liberalism between 17th to 19th century. If this is the next period of intellectual tradition, the focus should be more on the liberalism of thought. The piece is more on liberalisms of politics and economics, although I also touched upon liberalisms of thought in science and religion. Here it is in Bahasa.

Berbagai revolusi melahirkan, membentuk dan sekaligus dilahirkan dan dibentuk oleh liberalisme. Ibarat bibit, kelangsungan hidupnya untuk menjadi pohon tergantung dimana dia berada. Karakteristik pohon tersebut adalah karakteristik lingkungan tempat dia tumbuh. Dan sebagai pohon, dia juga mempengaruhi kualitas udara dan tanah habitatnya.

  • Revolusi Iptek
    Reformasi gereja di abad 16, dilanjutkan dengan perang agama di abad 17 mendorong banyak rakyat Eropa mulai skeptis tentang siapa yang benar dalam konflik ini. Sebelumnya mereka yakin raja mempunyai kuasa langit (divine rights) yang tidak bisa diganggu gugat.

    Revolusi iptek abad 17 dan 18 memberikan inspirasi bahwa kebenaran bisa didapat melalui metoda ilmiah. Apa yang diterima melalui panca indra (observasi, empiris) harus diverifikasi oleh nalar (matematis). Apa yang dibuktikan oleh matematika (nalar) harus didukung oleh bukti-bukti empiris hasil observasi.

    Hasil-hasil yang dicapai Newton, misalnya, membuat orang percaya bahwa alam semesta ini teratur dan berjalan sesuai hukum Tuhan, bukan hukum agama yang dibawa gereja. Keberhasilan metoda ilmiah untuk memahami alam semesta mendorong para pemikir untuk mengaplikasikan nalar dan metoda empiris ke ilmu sosial.

    John Locke, pemikir dari Inggris, berpendapat bahwa sebagaimana alam semesta yang berjalan sesuai dengan aturan dari Tuhan, demikian pula manusia. Aturan yang mendasari keberadaan manusia adalah hak-hak individunya, yaitu kehidupan, kebebasan dan pemilikan.

  • Revolusi Amerika
    Pengaruh terbesar John Locke ada pada Revolusi Amerika. Di Amerika menyebar kesadaran bahwa raja tidak punya hak mutlak atas rakyatnya (monarki absolut). Rakyat Amerika tidak mau membayar pajak yang besar hanya untuk menambah kas Inggris, tanpa kompensasi perwakilan dan pemerintahan. Kewajiban yang dibebankan tersebut dianggap melanggar nilai-nilai kehidupan dan kebebasan.

    Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan deklarasi kemerdekaan Amerika oleh Jefferson. Tidak seperti Locke, Jefferson menganggap hak milik bukanlah hak yang samawi. Dia menggantinya dengan hak mengejar kebahagiaan, yang mungkin ada kesamaan dengan ide Aristoteles sebagai tujuan hidup. Hak-hak ini kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai kewajiban negara untuk melindungi kepentingan rakyatnya (Bill of Rights – Madison).

    Perlu diingat, hak-hak tersebut pada awalnya hanya berlaku untuk laki-laki merdeka. Baru tahun 1920, wanita ikut dalam Pemilu nasional di AS. Lebih parah lagi adalah masyarakat kulit hitam, yang hak-haknya lama menjadi korban kepentingan ekonomi dan alat bagi orang-orang yang punya hak penuh untuk mengejar kebahagiaan mereka.

  • Revolusi Industri – Liberalisme Ekonomi dan Kapitalisme
    Populasi Inggris di abad 17 dan 18 mengalami lonjakan pesat. Selain itu, dengan lancarnya jalur pelayaran ke Asia dan Afrika, mengalirlah kekayaan hasil eksploitasi kedua benua tadi. Hal ini menciptakan golongan baru, di luar kelas tradisional seperti gereja dan bangsawan, yang mempunyai kapital besar. Modal tenaga kerja dan kapital ini ditambah dengan ditambah dengan berbagai penemuan, seperti mesin uap, mendorong tumbuhnya berbagai industri baru.

    Revolusi industri inilah yang menjadi lahan berkembangnya liberalisme ekonomi. Ide Adam Smith tentang pembagian kerja dan spesialisasi untuk mengoptimalkan produksi diterapkan di berbagai pabrik. Bahan dan hasil industri diperdagangkan di pasar bebas dengan seminimal mungkin campur tangan pemerintah (invisible hand), dan didasarkan atas asas comparative advantage.

    Ini semua menciptakan, paling tidak bagi kaum bermodal, kebebasan dan kesetaraan ekonomi (dalam berdagang, investasi, dll) yang menjadi awal dari kapitalisme.

  • Revolusi Perancis – Liberalisme Politik dan Nasionalisme
    Revolusi Amerika terjadi lebih dahulu daripada Revolusi Perancis, tetapi karena jarak dan ketidak-tahuan, pengaruhnya hampir tidak terasa di Eropa daratan. Revolusi Perancis dan kejadian setelahnya, di lain pihak, membawa pengaruh besar di Eropa daratan terhadap kesadaran akan kebebasan dan kesetaraan berpolitik, sesuai dengan slogannya.

    Revolusi ini menghilangkan diskriminasi agama (Katolik vs Protestan). Rakyat menjadi punya kebebasan mengemukakan pendapat dan menentang penguasa. Kesetaraan juga berarti rakyat merasa punya status yang sama dengan bangsawan dan ahli gereja. Akhirnya, terjadi perombakan institusi pemerintahan besar-besaran dari bentuk monarki menjadi republik.

    Setelah Revolusi, Napoleon merusak batasan-batasan geografis dan tradisi dari kerajaan-kerajaan Eropa waktu itu. Selain itu, rakyat biasalah yang melawan Napoleon, bukan kalangan bangsawan atau gereja. Mereka merasa punya kewajiban untuk membela tanah air dan ikatan dengan sesama rakyat, bukan ikatan pada kerajaan. Ikatan nasionalisme ini melahirkan tuntutan akan hak-hak rakyat untuk terlibat dalam pemerintahan. Inilah awal runtuhnya berbagai kerajaan, dan lahirnya berbagai negara Eropa modern yang kita kenal sekarang ini.

Perubahan yang dibawa liberalisme di berbagai bidang membawa berbagai reaksi dari berbagai golongan. Selain itu juga timbul perbedaan pandangan yang menjadi awal evolusi liberalisme itu sendiri.

  • Konservatisme
    Golongan ini menentang penekanan liberalisme pada hak-hak individu yang menyebabkan terabaikannya tradisi kolektif suatu masyarakat. Misalnya, mereka memandang liberalisme merusak tradisi dan nilai-nilai sosial kebangsawanan. Mereka menganggap masa lalu lebih baik dan tradisi sosial harus dijunjung tinggi.
  • Sosialisme
    Di lain pihak, penganut paham sosialisme merasa liberalisme perlu dibawa lebih jauh lagi. Kebebasan ekonomi dan revolusi industri menciptakan berbagai efek samping dalam kehidupan sosial yang timpang. Karena itu, golongan ini berpendapat kebebasan mungkin harus dikorbankan demi kesetaraan.
  • Utilitarianisme
    Asas dari paham yang digagas oleh Bentham dan Mill (Inggris) ini adalah memaksimalkan manfaat untuk sebanyak-banyak orang. Paham ini tumbuh subur di Inggris dan merupakan salah satu sebab liberalisme politik di Inggris berjalan relatif damai, selain pengaruh Revolusi Amerika dan status Inggris sebagai negara Protestan.

    Di bidang politik, penekanannya adalah pada perubahan konstitusional bukan perubahan institusi seperti Revolusi Perancis yang berdarah. Perubahan konstitusional dipandang lebih membawa manfaat yang besar untuk banyak orang. Inilah mengapa sampai sekarang monarki masih bertahan di Inggris.

    Dari asasnya, jelas bahwa paham ini mendukung timbulnya demokrasi dan pemilihan umum untuk mengetahui jumlah orang yang paling merasakan manfaat dari suatu aturan. Pengaruh paham ini pada iptek juga mendukung revolusi industri. Prioritas di bidang pendidikan diberikan kepada iptek terapan, yang manfaatnya lebih terasa langsung.

    Kritik terhadap paham ini terutamanya menyangkut penghitungan dan pendefinisian manfaat yang sangat relatif di setiap orang ataupun budaya. Juga timbul kritik terhadap pemenuhan manfaat semata dengan mengabaikan kebebasan. Misalnya, orang yang merasa terpenuhi semua kebutuhannya (melalui obat-obatan, atau seperti dalam novel terkenal, A Brave New World), tapi terikat kebebasannya.

  • Kontrak Sosial
    Kalau semua orang bebas melakukan apa saja, bagaimana negara dan hukum tercipta? Pertanyaan itulah yang ingin dijawab melalui kontrak sosial. Thomas Hobbes merasa pesimis dengan sifat dan kelakuan manusia. Menurutnya, kalau dibiarkan saja, manusia akan saling mencelakakan. Karena itulah manusia melakukan kontrak sosial dan membentuk suatu negara yang berkuasa untuk melindungi rakyatnya.

    Sementara itu, Adam Smith lebih optimis dalam penilaiannya terhadap manusia. Dia melihat manusia masih punya sifat baik dan ingin menolong. Bahkan dengan usahanya untuk memperbaiki dirinya sendiri, setiap individu akhirnya memperbaiki masyarakatnya. Karena itulah peran negara harus dikurangi, karena individu bisa menjaga diri sendiri dan menolong orang lain yang kurang mampu.

Categories: Personal Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.