Mu’jizat cita-cita besar kita
[originally written for a dear brother of mine]
Ketika Johannes Kepler berhasil menemukan bahwa pergerakan planet mengelilingi matahari adalah elipsis (Kepler’s first law of planetary motion), dia merasa kecewa. Penelitian yang dia lakukan selama lebih dari dua puluh tahun, tidak menghasilkan apa yang dia inginkan. Dia ingin membuktikan bahwa orbit planet adalah lingkaran. Karena lingkaran adalah lambang kesempurnaan dan Kepler ingin membuktikan kesempurnaan ciptaan Tuhan. Kepler menganggap elipsis adalah suatu cacat dari kesempurnaan itu.
Penemuan yang kedua tidaklah cukup mengobati kekecewaannya itu. Padahal hukum kedua ini cukup menakjubkan, bahwa luas bidang yang ditempuh oleh planet adalah sama untuk setiap jangka waktu yang sama. Dia menganggap ini kesimpulan lumrah kalau orbit adalah lingkaran dan kecepatan revolusi adalah konstan.
Tapi kepercayaannya akan kesempurnaan ciptaan Tuhan mendorong dia untuk terus bekerja. Dan sepuluh tahun kemudian Kepler menemukan hukum ketiga, bahwa jangka waktu yang diperlukan oleh sebuah planet untuk melakukan satu revolusi berkaitan dengan jarak rata-ratanya dari matahari. Dia merasa temuan inilah yang dia cari.
Di masa itu, paham heliosentris bahwa bumi mengelilingi matahari bukanlah paham yang populer. Bahkan penolakan terhadap prinsip bahwa matahari mengelilingi bumi bisa berakibat maut dan mendapat hukuman gereja. Teknologi untuk mengamati bintang dan mahkluk angkasa lain masihlah sangat terbatas.
Karena itu banyaklah yang meragukan penemuan Kepler ini, tapi kali ini dia tidak kecewa. Dia percaya nantinya temuan dia akan terbukti dan tidak merasa perlu untuk mendapat pengakuan sekarang juga. Ketika bukunya terbit, dia mengatakan, “Aku sudah menulis bukuku, dan mungkin setelah berabad baru dibaca orang. Tak apa, karena Tuhan sudah menunggu 6000 tahun untuk seorang manusia membaca dan membuktikan ayat (ciptaan) Nya.”
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah itu. Tentu saja harus kita ingat adalah bahwa Kepler bukan seorang Muslim, dan tentunya kita mempunyai aqidah keimanan kepada Allah yang berbeda dari dia. Dengan keyakinan yang dia punya dia merasa mempunyai suatu misi untuk membuktikan kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Kita sekarang ini sebenarnya punya misi yang mirip, yaitu membuktikan kesempurnaan sistem hidup yang sudah ditetapkan Allah kepada kita. Kalau kita berhasil, kita kembali membuka mata manusia, akan kesempurnaan sistemNya. Dan kalau itu benar dan Insya Allah akan berhasil, itulah anugerah. Mungkin itulah “mu’jizat” Allah kepada kita, karena mungkin sekarang tidak terbayang oleh kita, bagaimana bisa menyelesaikan berbagai masalah yang begitu berat dan rumit.
Indonesia sekarang ini ibarat seorang kepala keluarga yang tidak hanya harus menghidupi keluarganya, tapi sekaligus juga membayar hutang-hutang keluarga. Indonesia sekarang ini ibarat pelari yang sudah ketinggalan jauh, sementara pelari di depan lari dengan kecepatan 20 km/jam, dan kita lari dengan kecepatan 10 km/jam. Kapan kita bisa mengejar ketertinggalan?
Masalah kita sangat banyak, kemampuan dan sumber daya kita sangat minim. Dalam skala kecil, itulah yang dialami Kepler. Dia harus melakukan penghitungan yang luar biasa rumit dengan alat bantu yang minim. Calculus baru ada 100 tahun kemudian setelah Newton dan Leibniz. Geometri analitik masih menunggu Descartes. Kesalahan sedikit saja pada hitungan Kepler akan berakibat cukup fatal, dan membuatnya harus mengulang dari awal.
Walaupun kita gagal di tengah jalan, teruslah belajar dan selalulah bekerja. Lihatlah berulang-ulang sistem ciptaan Allah ini, periksalah penglihatan dan ilmu yang kita miliki.
Al Mulk 3-4:
“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.
“Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”
Selama ini kita hanya melihat kesempurnaan sistem Allah di buku, hanya mendengar dalam nasehat. Kalau kita ingin melihatnya, dan membuktikannya ke semua manusia, tidak ada jalan lain kecuali terus belajar meningkatkan kemampuan kita dan selalu bekerja mengejar ketinggalan kita. Kepercayaan Kepler terhadap kesempurnaan ciptaan Tuhan mendorongnya untuk terus bekerja puluhan tahun pantang menyerah.
Dan kitapun harus memuji Kepler yang betul-betul memegang teguh misi kerjanya. Biar manusia tidak menghargai, bahkan tidak membaca hasil temuannya, dia tidak merasa kecewa. Kita mungkin tidak berhasil mencapai cita-cita besar kita ini dalam usia hidup kita. Tetapi kita berdoa dengan kerja-kerja kita, kita bisa melihat kedepan, melihat kesempurnaan, mengharap kemu’jizatan.
setuju pak aria, artinya memang kita mesti melihat sisi contentnya daripada melihat konteksnya, sekalipun kepler bukan muslim, dan melihatnya mesti kasuistik…apalagi sekarang lebih banyak umat islam yang terjebak nostalgia semu kejayaan islam tempo dulu…perspektif yang agak mirip saya tuliskan juga di blog saya: Orang Besar dan Karyanya
Setuju pak Aria..oh yah saya ada di Toronto saat ini, siapa saja komunitas di website ini ? atau rekan2 Pak Aria
Salam – Abu Umar