<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Motivasi vs Konsekuensi dalam Debat Kebijakan Publik</title>
	<atom:link href="http://www.hunafa.org/2/motivasi-vs-konsekuensi-dalam-debat-kebijakan-publik/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hunafa.org/2/motivasi-vs-konsekuensi-dalam-debat-kebijakan-publik</link>
	<description>Start by being just to the self. &#34;Don&#039;t hasten the end result before completing the beginning, don&#039;t begin without looking toward the end.&#34;</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Apr 2010 03:12:23 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: Aria PN &#187; Komponen Partai Politik Modern</title>
		<link>http://www.hunafa.org/2/motivasi-vs-konsekuensi-dalam-debat-kebijakan-publik/comment-page-1#comment-381</link>
		<dc:creator>Aria PN &#187; Komponen Partai Politik Modern</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2006 23:21:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.keadilan.net/blog/?p=2#comment-381</guid>
		<description>[...] Kasarnya, lewat komponen ini kita ingin menang dan mengalahkan lawan. Menang di Pemilu, menang di forum DPR/D, menang di mata publik. Selama ini kemenangan kita di mata publik adalah dalam masalah moral credibility belum policy capability. Sekarang saatnya kita mulai serius memikirkan ini. Tulisan saya sebelumnya tentang motivasi vs konsekuensi berhubungan dengan komponen yang ketiga ini. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Kasarnya, lewat komponen ini kita ingin menang dan mengalahkan lawan. Menang di Pemilu, menang di forum DPR/D, menang di mata publik. Selama ini kemenangan kita di mata publik adalah dalam masalah moral credibility belum policy capability. Sekarang saatnya kita mulai serius memikirkan ini. Tulisan saya sebelumnya tentang motivasi vs konsekuensi berhubungan dengan komponen yang ketiga ini. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aflahah</title>
		<link>http://www.hunafa.org/2/motivasi-vs-konsekuensi-dalam-debat-kebijakan-publik/comment-page-1#comment-20</link>
		<dc:creator>aflahah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Jul 2005 08:32:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.keadilan.net/blog/?p=2#comment-20</guid>
		<description>Buat pemilik website ... salam kenal ... ayo diupgrade terus ya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Buat pemilik website &#8230; salam kenal &#8230; ayo diupgrade terus ya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aflahah</title>
		<link>http://www.hunafa.org/2/motivasi-vs-konsekuensi-dalam-debat-kebijakan-publik/comment-page-1#comment-19</link>
		<dc:creator>aflahah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Jul 2005 08:30:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.keadilan.net/blog/?p=2#comment-19</guid>
		<description>Ambil enaknya aja, kalo ada yang lebih melihat ke motivasi bisa juga jadi pemicu untuk berfikir kemudian apa yang ditimbulkan setelahnya. Jadi menurut saya sah2 saja seseorang memandang sesuatu dari motivasi selama kacamata yang dipakai memang proven sering dibersihkan. Dan hati-hati juga dengan konsekuensi yang digelontorkan oleh pihak2 tertentu yang merupakan reaksi dari aksi, karena itupun akan berbeda-beda keluarannya. Intinya semua tergantung dari niat si penghasil respon. But nice try, soalnya saya juga gak bisa nulis kayak gini. Sip deh.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ambil enaknya aja, kalo ada yang lebih melihat ke motivasi bisa juga jadi pemicu untuk berfikir kemudian apa yang ditimbulkan setelahnya. Jadi menurut saya sah2 saja seseorang memandang sesuatu dari motivasi selama kacamata yang dipakai memang proven sering dibersihkan. Dan hati-hati juga dengan konsekuensi yang digelontorkan oleh pihak2 tertentu yang merupakan reaksi dari aksi, karena itupun akan berbeda-beda keluarannya. Intinya semua tergantung dari niat si penghasil respon. But nice try, soalnya saya juga gak bisa nulis kayak gini. Sip deh.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: adionggoboyo</title>
		<link>http://www.hunafa.org/2/motivasi-vs-konsekuensi-dalam-debat-kebijakan-publik/comment-page-1#comment-12</link>
		<dc:creator>adionggoboyo</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2005 07:50:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.keadilan.net/blog/?p=2#comment-12</guid>
		<description>dalam perspektif saya, motivasi berada pada landasan sakleknya, sedangkan konsekuensi adalah wilayah fleksibelnya...hmm, dalam konteks internalisasi nilai-nilai berislam bukankah juga harus melalui proses2 seperti itu? artinya mesti gradual, tidak langsung kaku tanpa melihat situasi kondisi yang ada...sip, tulisan yang menarik :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dalam perspektif saya, motivasi berada pada landasan sakleknya, sedangkan konsekuensi adalah wilayah fleksibelnya&#8230;hmm, dalam konteks internalisasi nilai-nilai berislam bukankah juga harus melalui proses2 seperti itu? artinya mesti gradual, tidak langsung kaku tanpa melihat situasi kondisi yang ada&#8230;sip, tulisan yang menarik <img src='http://www.hunafa.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
