Ekspresi Penghambaan
Tiga sikap yang berbeda terhadap suatu kesulitan, yang semuanya merupakan ekspresi penghambaan dari tiga orang shalih:
- Shaykh Qasim an-Nanotwi tidak pernah mengabarkan kesulitan atau musibah yang sedang menimpanya. Baru setelah peristiwa itu lama berlalu, ia menyebutkan kejadian tersebut. Baginya apa yang datang dari Allah adalah yang terbaik dan ia harus sabar menerimanya. Sabar adalah satu expresi penghambaan.
- Setiap kali Haji Imdaadullah mengalami kesulitan, walaupun kecil, ia akan mengeluh dan mengaduh. Ia sering ditanya kenapa tidak bersabar dan bukankah mengeluh berarti tidak rela terhadap takdir Allah. Ia menjawab bahwa ia tidak berani menampakkan kekuatan menghadapi ujian Allah. Ia memilih merendahkan dan menyerahkan diri. Dalam kesulitan ia menyeru kepada Allah, “Saya tidak pantas diuji, saya tidak punya kekuatan. Ampunilah aku tanpa mengujiku. Mengekspresikan ketidakmampuan dan ketergantungan adalah satu bentuk penghambaan.
- Shaykh Rasheed Ahmad al-Gangohi tidak pernah mengeluh kalau jatuh sakit. Tetapi ia sangat hati-hati terhadap sakitnya, seringan apapun. Ia akan memanggil dokter, minum obat, bertanya makanan apa yang harus dimakan atau dihindari. Orang-orang sering bertanya apakah ini tidak bertentangan dengan tawakal, apalagi hanya sakit ringan. Ia menjawab bahwa badan kita adalah pemberian dari Allah. Kita bukan pemilik badan ini dan wajib hukumnya untuk memeliharanya. Menjaga amanah adalah satu ekspresi penghambaan.
Dari buku Virtues and Etiquettes of Visiting the Sick oleh Mufti Rasheed Ahmad Fareedi.